LAMPUNG ; Petualangan Dimulai dari Sini ( bagian 1 )

January 10th, 2010

Pagi  itu, Kamis  16 Desember  saya, Lilis, Robert, Johan dan Yurike sudah berkumpul di bandara Soekarno-Hatta sudah berkumpul jam 6:45 untuk terbang ke Lampung dengan pesawat Batavia Air keberangkatan jam 08:00. Hanya Budiman yang tidak menampakkan batang hitungnya karena kelelahan setelah sehari sebelumnya kerja lembur di lapangan. Sebenarnya saya sendiri belum mengenal mereka sebelumnya kecuali Lilis, namun suasana segera cair setelah diperkenalkan Lilis.  Mungkin karena merasa satu tujuan kunjungan Familiarization Trip yang diadakan Pemerintah Daerah Provinsi Lampung untuk memperkenalkan kekayaan wisata di sana.

 

Pesawat Batavia  Air Boeing 737-300 yang terisi penuh penumpang take off dengan mulus tenang dalam  keadaan cuaca pagi yang sangat cerah. Benar-benar menjadi 30 menit penerbangan yang menyenangkan. Lilis yang sangat perhatian pada kami semua , Johan yang selalu mengundang obrolan apa saja, sementara Robert lebih menjadi pendengar yang baik sambil senyum-senyum setiap obrolan canda saya, Lilis dan Johan. Justru Yurike juga menjadi objek tertawaan kami karena ia baru mengerti apa yang kami candakan setelah kami tertawa terbahak-bahak sekian lama. “ Lola – loading lama “ kata Lilis.

 

Tiba di bandara Branti tepat waktu, kami sudah disambut oleh teman- teman dari Suku Dinas Pariwisata Provinsi Lampung dan beberapa insan  industri pariwisata seperti mbak Tina dari Hotel Novotel Lampung yang dengan semangat memperkenalkan hotel tersebut  yang masih tahap kontruksi dan baru akan memulai soft opening bulan Maret 2010. Iapun dengan bangganya, bahwa Novotel akan menjadi salah satu hotel terbaik di Telubetung, kota Lampung. Hotel ini memang nantinya akan sangat menarik, karena selain dibangun megah tinggi, juga menempati salah satu bukit yang memiliki panorama ke teluk Lampung yang menawan. Teman seperjalanan kami ternyata masih banyak yang tidak kami sadari teerbang satu pesawat antara lain dari TV swasta, majalah pariwisata, fotographer dan dari national Geografic  yang membawa crew dan kendaraan  4×4 WD Land Rover yang sangat cocok untuk menembus medan sesulit apapun, lengkap dengan segala perlengkapan kamera dan perlengkapan tenda.

 

Yaman aziz, tour guide Fam Trip yang suka mengenakan busana batik ini, mengatakan, Kota Bandar Lampung  yang merupakan ibu kota provisi berpenduduk sekitar 800,000 penduduk menempati seluas 118 km persegi. Lanscape kota itu sendiri terdiri dari daratan pantai dan perbukitan mulai dari Tanjung Karang, Teluk Betung, Panjang  dan sekarang memanjang ke kawasan baru bernama Kedaton.

 

 Keluar kota Bandar Lampung baru mulai terasa satu petualangan yang berbeda. Jalan yang tidak terlalu lebar menyusuri bukit-bukit dengan panorama perkampungan, perkebunan cacao, ladang pertanian, sawah, tambak udang  dan laut teluk Lampung yang biru nun jauh disana.  Jalan yang menurun tak terasa menghantarkan bus wisata yang kami naiki bersama mengantarkan ke bibir pantai Klara yang berpasir putih dan riak ombak laut yang tenang. Terasa rayuan kilau cahaya yang menerpa air laut merayu kami untuk bermanja-manja dan berenang disini. Sayang sekali, rehat kali ini hanya untuk menikmati makan siang nasi Padang yang disediakan panitia dalam kotak kardus

 

Semakin lama, memang keadaan jalan tidak semulus seperti sebelumnya. Sangat disayangkan, satu garis kawasan pantai yang landai dan panjang masih belum terekploitasi dengan maksimum. Ratusan pohon kelapa berjajar indah sepanjang pantai memberikan kesejukan tersendiri. Inilah salah satu alasan kenapa pantai ini diberi nama pantan “ Klara” yang diambil dari singkatan “ Kelapa rapat “ atau pohon kelapa yang tumbuh sepanjang pantai begitu banyak bahkan   masing-masing ujung daun kelapa saling

bersentuhan dengan daun kelapa lainnya memayungi bantaran pantai. Di pantai ini lah saya sempat berkenalan dengan Pak Dar, salah satu tour operator local yang memperkenalkan salah satu wisata pulau Pahawang yang berada persis di hadapan pantai Klara. Menurut pak Dar yang ramah dan santun itu hanya baru dapat menginformasikan bahwa pulau yang samar-samar di hadapan pantai Klara sangat menyimpan banyak pesona. Untuk pecinta snorkeling dan diving, disini banyak terumbu karang yang indah dan tidak terlalu dalam dan terlindung dari arus air karena berada di selat antara pulau Pahawang dan daratan utama Sumatra. Untuk pecinta wisata ekologi, disini masih terselamatkan hutan bakau yang sangat luas yang menjadi sarang berbagai jenis burung pantai bercengkrama. Meskipun belum banyak wisatawan yang mengunjungi pulau Pahawang, tapi disana setidaknya sudah tersedia 5 bungalow yang siap menampung wisatawan sampai 30 sampai 40 orang sekaligus. Bahkan, bila jumlahnya lebih banyak, penduduk dipulau ini yang hamper sebagian sebagai nelayan siap menampung wisatawan sebagai tamu keluarga. Sebuah pengalaman tersendiri berwisata tinggal di rumah nelayan. ( bersambung )

Website baru :DUKUNG PARIWISATA

December 31st, 2009
Senin, 28 Desember 2009 Departemen Kebudayaan dan Pariwisata baru saja mensosialisasikan website baru www.dukungpariwisata.com .  Walau dalam suasana liburan Natal dan tahun baru dan hujan gerimis sepanjang siang hingga sore hari,  ternyata peserta yang datang bisa dikatakan sangat memenuhi target yang diharapkan. Hal ini dilihat dari hampir semua kursi terisi penuh oleh undangan yang kebanyakan berasal dari kalangan Biro Perjalanan Wisata.   Peluncuran website ini memang mengandung rasa penasaran yang sangat besar para undangan yang hadir apakah yang akan diperkenalkan pada mereka mengenai website tersebut di atas. Apakah gerangan yang akan diperkenalkan kepada kalangan penggiat usaha di bidang kepariwisataan.
 
Dari paparan pemrakarsa Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, akhirnya semua menangkap sinyalemen bahwa pemerintah sudah menyediakan subuat wadah virtual untuk memasarkan kepariwisaan di tanah air. Banyak sisi positif yang dapat diambil, contohnya adalah setiap informasi selalu termutakhirkan dengan data yang valid karena semua data diisi oleh pihak-pihak penggiat usaha kepariwisataan. Didalamnya terdapat halaman-halaman setiap sektor usaha untuk dapat mengisi data perusahaan dan jenis jasa yang ditawarkan mulai dari travel agent, hotel, villa, restaurant dan segaal aspek pendukung kepariwisataan.
 
Penampilan dari situs ini dapat dibilang masih sangat sederhana untuk sebuah situs yang diluncurkan pemerintah yang membawa nama Indonesia. Dari kesederhanaan ini pula timbul setidaknya dua pertanyaan mengenai pertama desain masih tumpang tindih halaman dalam redaksional antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris. Masih minimnya halaman sehingga satu halaman travel list harus menampung sekaligus seluruh data travel agent dari seluruh Indonesia tanpa dikelompokan per wilayah atau per kota. Bayangkan apabila situs ini diisi oleh 2000 travel agent dari berbagai kota di Indonesia, akan sangat sulit mencari salah satu agent di satu kota tertentu. Artinya, masih harus dibagi menjadi beberapa sub halaman disesuaikan kota / wilayah yang ada di Indonesia. Pertranyaan kedua dari Ketua Umum ASPPI ( Asosiasi Profesional Pariwisata Indonesia ) Riyan Bahriyansyah adalah terlalu bebasnya semua pihak menginput data. Artinya, sangat dimungkinkan pihak-pihak yang tidak berkompeten seperti travel agent liat tak berizin, broker, calo dan lain-lain mengisi data dan menjual produk wisata di situs milik pemerintah. Apabila terjadi, tujuan mulia membentuk situs ini akan sia-sia apabila suatu saat ada wisatawan yang dikecewakan karena mencari informasi pariwisata di situs ini.
Satu temuan secara tidak sengaja dari fitur ini adalah beberapa pilihan fitur produck travel agent , disana diberikan pilihan produk yang ditawarkan seperti : INBOUND , OUTBOUND, TIKET, HOTEL VOUCHER, TRANSPORT . Yang menjadi sedikit kejanggalan disini adalah kenapa situs yang dibuat oleh pemerintah dengan tujuan mengembangkan pariwisata dalam negeri, tetapi masih memberi pilihan isian product OUTBOUND dalam menunya. Artinya, disini masih terdapat celah menggiring wisatawan Nusantara ( Domestik ) berlibur ke luar negeri. Ada baiknya segala yang berbau OUTBOUND TOUR tidak diberikan tempat di situs ini karena tujuannya sudah jelas, Mendukung Pariwisata Indonesia.

Di Pojok Bandara

September 17th, 2009
Tak akan aku penat,
Kau ku tunggu
Tak kusangka kau delay hai burung besi pembawa  “tetamu”ku
 
Tak akan kurasa lama,
ku menanti ketidakpastian jumpa wahai “tamu”ku
Bergelas-gelas pastik kopi emperan parkir bandara
Berbatang-batang rokok kretek asongan inang-inang
 
Aku tetap menunggu,
Walau nyamuk brnyanyi riang menghibur telingaku ku
Walau deras hujan berkilat petir membasahi batik kebanggaanku
Walau lumpur hingga mengering dan debu menempel di kilauan sepatuku
 
Namun kau akan kusambut dengan seyum termanisku yang tersisa
 
istriku - abang pulang malam
Soekarno - Hatta Airport
4 September 2009
 

Menunggu jadi tak Terasa Lama di Soekarno-Hatta

August 2nd, 2009

Semua mungkin sependapat, kadang menunggu sangatlah menjemukan. Bagaimana tidak hari Minggu, Jam 9 pagi sudah harus ada di Bandara Soekarno-Hatta JKT karena ada kedatangan tamu dengan Singapore Airlines SQ 956 tiba jam 09:40, baru saja selesai check in di Jakarta Airport Hotel dan baru sedikit bernafas, ternyata harus menjemput dgn Thai Airways TG 433 kedatangan jam 11:35. Beres check in, masih ada lagi menunggu kedatangan emirat EK 356 kedatangan jam 15:55.  Seneng sih masih ada wisatawan asing yg mau datang ke Indonesia meskipun pasca bom di JW Marriot / Ritz Carlton buat mereka bukan hal yang menakutkan. Bahkan masih mau menyusuri pelosok  Indonesia mulai dari penangkaran Orang Utandi  Tanjungputing, Melihat pedalaman suku Dayak di sungai Mahakam, diving di  pulau Derawan kalimantan Timur, berlanjut ke Toraja, Lembah Baliem, Pulau Komodo dan berakhir di Bali selama 27 hari. Sebuah perjalanan yg sangat banyak didambakan para petualang dari daratan eropa dan Amerika sana.

bersyukur kesempatan penunggu yg cukup lama sekitar 3 jam di bandara mendapatkan sedikit penghibur. dari sekedar nyasar cari resaurant tempat rehat dan minun dan bisa browsing atau chat dan liat-liat e-mail maka sudah dipersiapkan dari rumah seperangkat laptop, charter lengkap dengan modemnya.

Selesai pesan minum teh panas dan Kentang Goreng senilai Rp. 16,500 di TOREORE CHECKEN & JOY Terminal 2F, dikeluarkanlah senjata dalam ransel gendong sambil minta izin menggunakan listrik biar battery tidak drop. Waiter yang ramah dengan senyum yang manis terkulum dengan senang hati menunjukkan bahkan membantu mengulur kabel battery. Wah, baru kali ini saya dilayani seperti Raja di sebuah restaurant cepat saji. Sebuah nilai lebih dari sekedar menyajikan ganjal perut dan membasuh tenggorokan yang kering. Begitu laptop dinyalakan, dan modem internet pun di pasang, sang waiter menyapa sambil terheran ” Kok masih pake modem sendiri pak, kan disini udah FREE WiFi dan bapak bisa internetan sepuasnya” kata sang waiter yang ramah dan manis itu. ” Speed nya lumayan kok pakrata-rata  54 Kbps ” tambahnya lagi. ” lho, sering internetan ya ? ” tanya saya. ” Iya pak, saya sering bantuin setting passworld sampai betul-betul bisa tersambung, jadi saya tahu speed nya, soalnya beberapa tamu kadang minta tolong dikoneksikan ” dengan nada yakin membantu memasukan password yang katanya setiap hari diganti oleh manager agar tidak dimanpaatkan oleh orang-orang yang bukan tamu disisni.

Internet pun tersambung, sang waiter pamitan mau mengantarkan makanan yang sudah saya pesan. Wah, nilai tambah lagi buat seorang pelanggan. Makanan diantarkan sampai ke meja dan saya bisa asik membuka e-mail yang masuk.

Saya baru menyadari, ternyata di airport sekelas internasional yang sibuk di Jakarta ini pihak pengelolanya belum bisa menyediakan fasilitas internet gratis buat para penumpang yang datang maupun berangkat. Sungguh seribu langkah tertinggal oleh bandara internasional di negeri tetangga seperti Changi, Kualalumpur dan Hongkong yang dengan mudahnya menemukan fasilitas internet cuma-cuma. Pikir-pikir, seberapa mahalnya sih jaringan wireless untuk internet gatis. Padahal, setiap penumpang yang berangkat dikenakan Rp. 150,000 per orang untuk penerbangan internasional dan Rp. 40,000 per orang untuk keberangkatan dalam negeri. Ribuan orang berangkat dari bandara Sukarno-hatta. Terbayang begitu besar pemasukan bandara ini mulai dari setiap centi meter yang di komersilkan seperti gerai makanan, taxi, parkir pesawat, parkir mobil, dan masih banyak pendapatan PT. Angkasa Pura ( Persero ) ini. Tetapi kok fasilitas semurah ini masih belum bisa diakses secara cuma-cuma dari pihak pengelola bandara ? Bila dibandingkan dengan TOREORE yang hanya menempati sejengkal bandara yang pengunjungnya tidak memenuhi sekitar 100 kursi saja bisa.

Sungguhkah kalau pengelola bandara ini tidak menyadari akan hakikinya sebuah pelayanan ? atau memang para pimpinannya tidak melek teknologi. ah, mungkin tidak peduli meskipun mereka sering bolak-balik singgah di Changi dan nyata-nyata fasilitas Free WiFi sekarang ini sama pentingnya  dengan menyediakan toilet yang selalu bersih dan wangi.

Ya sudah lah, beruntung ada TOREORE yang menyadari bahwa bisnis dibandara memang harus cerdas menangkap apa yang diinginkan para pengunjungnya. lain kali sya jadi merasa yakin, bila ke airport tidak akan repot-repot mencari warnet untuk membuka e-mail. Cukup membeli secangkir teh hangat senilai Rp. 6,500 sudah bisa berinternet sepuasnya.

Dayak Setulang ; Penghuni Sorga yang Tersembunyi ( 2/2 habis )

May 28th, 2009

Ardi )

Setulang, damai di antara kesunyian. Sayang hanya sedikit sekali yang mengetahuinya ( foto : Ardi )

 

 

Hari ke tiga dan ke empat : Setulang – Tane Olen

Memasuki hutan seluas 5.300 ha, hati akan langsung terpesona saat naik perahu ketinting menelusuri sungai Setulang. Mata akan disuguhi panorama untaian zamrud katulistiwa di kanan kiri sungai beserta kehidupan masyarakatnya. Air sungai yang jernih, udara yang segar menyejukkan hati, batu kecil dan besar yang kadang membentuk giram kecil ditengah atau ditepi sungai Setulang. Pemandangan ini disuguhkan selama sekitar satu jam serasa melewati taman surgawi. Damai, tenang, asri, sunyi. Bahkan suara kepak sayap burung kecil pun begitu terdengar halus menyapa telinga kita.  Jalan surga di akhiri di hingga laga tana olen (pondok istirahat) telah menanti untuk sejenak menikmati kepul teh atau kopi dan kudapan. Perjalanan dapat di mulai dengan mengayunkan kaki menyelusuri jalan setapak / track menuju pohon cifor, pohon berjenis meranti (Shorea sp.) yang ditemukan oleh peneliti CIFOR sebagai titik pengamatan dalam penelitian mereka. Lebih melangkah lagi, hornbill view akan dicapai. Ini adalah point dimana burung enggang sering muncul. Kaze bezu, pohon besar dengan hampir 927 cm besaran kelilingnya dapat dijumpai di kawasan ini. Puncak Mangkok, puncak tertinggi di kawasan ini memberikan pemandangan bentangan alam hutan tropis  bak permadani hijau. Maha Besar Ya Allah. Kau ciptakan keindahan yang membuat kami takjub dan tak dapat mengucapkan satu katapun.

 

Menyusuri setapak kembali ke bush camp melewati Tenapan. Tenapan adalah air terjun kecil. Air terjun yang mengalir ke bawah ditampung di sebuah kolam renang alami, membuat penat hilang saat tubuh menyatu dengan segar airnya. Puas melepas dahaga di kesegaran kolam renang alami, menyusuri sungai menuju laga tana olen pun mendapat suguhan hutan hujan tropis. Suara binatang yang bercengkrama menandakan kegembiraan hidup mereka di hutan yang terjaga baik. Selain burung Enggang (Hornbill) dapat pula dijumpai burung Raja Udang (King Fisher) bermain di atas air sungai dan mencari makan kemudian sesekali hingga di batang pohon. Inikah Taman Sorga ? Beberapa satwa malam juga tak jarang mendatangi laga / bush camp ini untuk sekedar mencari sisa-sisa makanan atau berjalan saja.Hangatnya api unggun kecil menambah hangat suasana hutan tropis bersama dengan secangkir kopi atau teh penggugah selera. Guide yang mendampingi dapat pula menyediakan berbagai masakan tradisional yang diolah dari alam, seperti ikan sungai yang dimasak dengan bambu dan bumbu daun.

 

Day 5 : Setulang – Malinau – Tarakan – Balikpapan

Meninggalkan desa Setulang dengan Tane Olen nya dengan membawa beragam cerita dan pengalaman ditambah beberapa cenderamata menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sayangsekali, suasana kedamaian hati di Setulang sungguh tidak dapat dibidik dengan kamera kecuali datang langsung dan menikmatinya.

 

 

 

Dayak Setulang ; Penghuni Sorga yang tersembunyi ( 1/2 )

April 4th, 2009

Memanen Padi, pengalaman yang sangat langka bagi wisatawan ( by Ardi Sayuti )

Memanen Padi, pengalaman yang sangat langka bagi wisatawan ( by Ardi Sayuti )

 

Ardi Sayuti )

Sungai dan hutan di suatu pagi, menyajikan keserasian alam di Setulang ( by : Ardi Sayuti )

Perkampungan Setulang terletak di kabupaten Malinau ,Kalimantan Timur . Mereka mendiami satu sudut sorga kecil yang tersembunyi di Tanah Leluhurnya. Hidup damai bersama alam yang asri. Dimana riak air sungai yang jernih memberikan kesejukan, hutan alami memberikan kemakmuran hidup tanpa rasa takut kelaparan. Nyanyian burung hutan adalah lagu merdu membawa suasana hati penuh kedamaian

Perjalanan menuju Perkampungan Setulang sangatlah mudah ,dimulai dari Balikpapan airport menuju Tarakan dan dilanjutkan dengan perjalanan sungai menggunakan speedboat menuju Malinau dan diteruskan dengan kendaraan Mobil selama 1 jam. Ini adalah perkampungan Dayak yang ber migrasi di tahun 1968 – 1975  dari pedalaman ,tepatnya daerah sungai Saan,dekat Kayan Mentarang. Alasan ber migrasi karena sulitnya mencari kebutuhan pokok termasuk obat-obatan dan pendidikan.Kelompok ini termasuk dalam Komunitas Dayak Kenyah Oma’ Lung .Mereka terbiasa mempertahankan Tanah Adat (Tana Olen) agar selalu mendapatkan air bersih ,Berburu binatang , Ikan dan berladang tempat yang sudah ditentukan secara tradisional agar dapat menjaga kelestarian hutan.

 

 

Hari  pertama : Balikpapan – Tarakan – Malinau

Dimulai dari Balikpapan menuju Tarakan dengan waktu perjalanan satu jam.Tiba di bandara Juata Tarakan, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan speed boat yang bisa mengangkut 20  orang dari pelabuhan Tengkayu menuju pelabuhan Malinau. Terasa sekali aroma petualangan sudah dimulai sejak dari sini. Selama tiga jam dengan speedboat sungguh-sungguh sangat disayangkan untuk di sia-siakan. Semakin jauh mengarungi sungai ke hulu, semakin menarik untuk dinikmati.

 

Kali ini juga saya dapat melihat Bekantan (Nasalis larvatus) bermain di pohon bakau dalam kelombok lumayan banyak dari jarak cukup dekat. Bila beruntung dapat pula melihat beberapa ekor Pesut (Irrawadi dolphin) berenang di alur sungai yang tenang.  Tiba di pelabuhan Malinau, dapat langsung menuju hotel atau dapat langsung menuju perkampugan Setulang

 

Hari kedua : Malinau – Pulau Sapi – Setulang

Tiba di perkampungan Setulang, dapat langsung menuju ke homestay-homestay yang telah disediakan oleh pengelola asli Dayak Setulang dengan sambutan hangat serasa menyambut sodara yang dirindu-rindukan datang. Begitu terasa suasana rumah keluarga Dayak yang hangat dan bisa langsung menjadi bagian dari keluarga mereka. Pengalaman yang tak terlupakan. Di sinipun, dapat dinikmati keindahan arsitektur balai adat Adjang Lideng, lumbung-lumbung padi yang ada di puncak bukit, ukiran kayu pada setiap pintu gerbang, perahu panjang, kuburan masyarakat dayak Kenyah Uma’ Lung yang terletak di seberang desa. Beragam tari-tarian tradisional juga dapat dinikmati, seperti tari tunggal, tari perang dengan diiringi musik tradisional sampeq, alat pukul dari kayu kering.

Kehidupan desa yang tenang dan asri sangat menambah rasa nyaman. Tak jarang dapat pula dijumpai warga desa yang sedang menjemur padi atau kopi di depan rumah, warga yang akan dan pulang berburu di hutan, pengrajin rotan untuk dibuat berbagai barang seperti anjat, tikar; pengrajin Mandau (senjata khas dayak) dan juga pembuat seraung (topi khas dayak). Menikmati suasana malam di desa ini juga tak kalah mengasyikkan. Pengunjung dapat berdiskusi dengan masyarakat tentang sejarah, kehidupan sehari-hari, budaya bersama dengan warga desa.

 ( bersambung )

Bandung 200 tahun lalu

March 30th, 2009

 

 

 

 

 

 

Lokomotive di depan stasiun Kereta Api Bandung ( private collection )

Lokomotive di depan stasiun Kereta Api Bandung ( private collection )

Salah satu tonggak sejarah pembangunan kota Bandung dari kota kabupaten tradisional menjadi kota yang modern adalah atas perintah Bupati R. A. Wiranatakusumah II akhir tahun 1808 akhir tahun 1809 dalam rangka memindahkan pusat pemerintahan kabupaten Bandung dari  selatan ke sebelah utara dan bertepatan dengan Dutch Indies Governor H. W. Daendels pada tahun 1810 berkunjung memimpin kerjapaksa pembangunan jalan 1000 km.

 

 

:
 ”Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (’Attention! If I come again here, a city must be built!’)
 
Dampak pembangunan jalan ke Bandung, sangat berpengaruh sekali terhadap perkembangan kota yang asri bahkan dijuluki PARIJ VAN JAVA karena selain sebagai kota yang menghasilkan berbagai komoditi perdagangan kelas dunia seperti perkebunan Kina / bahan obat  ( terbesar di Dunia ),  peternakan sapi perah  dan  Perkebunan Teh. Pada saat itu juga berbagai kantor pusat dagang / perusahaan Kolonial dipindahkan ke Bandung seperti Stat Spoor ( Perusahaan Kereta Api ), PTT ( kantor Pos dan Telekomunikasi ), Markas Besar Militer, Radio Pemancar telepon pertama di indonesia karena ketinggian kota membantu pemancar frekwensi lebih jernih ke Belanda ( istilah HALO menjadi inspirasi lagu Halo - Halo Bandung. Karena pada masa awalnya suara telepon kurang jelas jadi sering mengulang-ulang kata Halo serta menjadi bahasa yang unik dan baru bagi masyarakat Bandung ).
 
Keberadaan kota yang sejuk dan didukung dengan fasilitas moderen, maka kota Bandung dikembangan sebagai kota yang tinggal sekaligus peristirahatan untuk kaum kolonial. Hingga sekarang masih banyak tersisa bangunan-angungan sisa kolonial ber-arsitektur Eropa yang disesuaikan dengan alam tropis di Bandung ditata dengan pekarangan yang luas dan taman-taman kota. Maka tak heran bila Bandung juga dijuluki KOTA KEMBANG.
 

Cause Banten “LOVE U”

January 24th, 2009

Long weekend nge-jomblo ? Pantangan buat orang Jakarta dan sekitarnya. Walau kegiatan kerja sehari-hari sudah melelahkan dari Senin sampai Jumat bahkan Sabtu, tapi untuk urusan long weekend rasanya sayang terlewatkan. Terasa begitu mahal libur long weekend disia-siakan. Musim hujan tahun ini toh belum memasuki puncak curah hujan tertinggi yang biasanya jatuh pada bulan Februari . Sudah beberapa tahun memeng sebagian wilayah Jakarta terginang banjir selalu jatuh pada bulan Februari.

 

So, where we are going ?

Bandung ? emang asik sih shopping dan belanja. Tapi rasanya barusanya ke Bandung menghabiskan pergantian tahun 2008 – 2009. Belum lagi sebulan.

Puncak ? Asik juga kalo sore masih datang kabut, paginya hangat dan cocok untuk bermalas-malasan di villa yang bisa disewa. Tapi kok long weekend Puncak bakal overload. Terbayang kalau salah perhitungan jam berangkat naik ke Puncak bisa bete abis nungguin jalan system one way buka tutup arus naik dan arus bawah. Mungkin cocoknya menghindari long weekend agar terhindar dari macet dan tidak banyak pilihan villa-villa yang bisa di sewa.

 

Go Sport, Banten Love U

Akhirnya ke arah barat Jakarta ternyata tempat pilihan yang tidak salah. Arah Banten yang tidak macet, banyak pilihan dari yang Fun, Sport, relax bahkan petualangan sekalipun.

 

What kind of destination Banten is ?

MARINE SPORT LOVE U : Hamparan pantai yang bersih sepanjang Anyer dan Carita gak kurang menawarkan hotel murah bahkan sampai resort sekelas bintang lima. Relax and sport ternyata asik di sini, dari mulai sekedar kecibang-kecingung di bibir pantai sampai main Jet Sky membelah riak air laut yang segar. Membuat istana pasir sampai bermain games juga asik.

CULTURE & TREKKING LOVE U : Ini salah satu tempat pavorit saya. Hiden place where no one can find me. Ya, Perkampungan Baduy.  Tinggal dan menginap di sini serasa hidup di jaman kedamaian masa kejayaan kerajaan Pajajaran. Hidup di tengah-tengah masyarakat pedesaan yang masih menjunjung tinggi akan kesederhanaan. Menilai sejatinya manusia dari budi luhur dan ketulusan hati. Bukan dari kepinterannya apalagi dari meterinya. Jangan tanya di sana ada apa ? karena memang hampir semua yang ada di Jakarta tidak ada. Tidak ada kendaraan bermotor, pilihan satu-satunya masuk Baduy adalah jalan kaki jalan kaki menusuri bukit, lembah, pancuran air jernih langsung dari perbukitan, hamparan padi ladang, riak sungai jernih menerjang bebatuan dan sesekali cicit burung dan burung Elang melayang mencari mangsa di atas perbukitan. Listirk dan Radio saja ditak ada apalagi televisi. Keheningan adalah hal yang sangat mahal harganya di Jakarta. Suasana damai alam yang asri sudah mustahil di dapat di Ibukota. Hanya ada di Baduy kita bisa melihat gadis-gadis dan wanita menenun kain, lalaki pergi ke Ladang dan anak-anak bercanda riang setiap hari dipekrangan rumah karena belajar yang terbaik adalah dari orang tua dan lingkungan. Bukan dari sekolah. Sebuah jaminan, tak satupun orang Baduy pergi ke sekolah. Makanya satu-satunya kampung di Indonesia bahkan  mungkin satu-satunya di dunia yang tidak mengidamkan adanya pendidikan modern dan bangunan sekolah.  Filsafat “ teu kudu pinter asal bener” atau tidak harus pandai tapi benar yang artinya benar dalam bersikap, komitmen, tidak bohong, tidak curang dan menghindari rasa dengki/jahat. Pengalaman menjadi guru buat mereka. Terbukti ternyata hanya orang pinter yang membohongi dan pemperdaya orang Bodoh karena menurut orang Baduy, ternyata kepinteran adalah amanah yang sangat berat di sandang karena bisa membodohi orang tidak pintar.

 

Arsad help Ita ( private collection )

Arsad help Ita ( private collection )

Apa lagi yang tidak ada ? Ya listrik. Malam hari yang senyap, damai hanya cahaya bintang dan bulan. Dihiasi kerlap kerlip cahaya kunang-kunang menghiasi sekeliling kampung bagai cahaya lampu hias di tangah kota. Damai makin terasa karena dijamin tak ada lagi gangguan telepon dari kolega atau boss Anda. Totally BLANK SPOT in Baduy. Perkampungan terpencil antara lembah-lembah membuat sinyal cellular tidak bisa tembus. Tapi memang orang Baduy tidak sama-sekali memerkukannya.

 

 

 

 

 

ADVENTURE LOVE U : Siapa yang suka tantangan, mangrungi laut sekitar ujung pulau Jawa menyambangi Anak Krakatau yang melegenda dengan letusannya pada Agustus 1883 ? Hampir 40,000 korban jiwa adalah merukapan rekor dunia untuk jamannya yang pada saat itu penduduk pulau Jawa bagian Barat dan Lampung tidak sebanyak sekarang. Rekor suara terkeras terhitung sejak ada peradaban manusia. Cakupannya suara dan debunya sampai jauh ke Australia. Nyaris satu generasi di kawasan sekitar hilang karena dampak letusan itu.

Kono Krakatau begitu mempesona meninggalkan kepulan asap di kawahnya yang masih aktif, dikelilingi pulau kecil berpasir putih dengan ombak yang tanang. Snorkling di antara terumbu karang yang terjaga keasriannya.

Taman Nasional Ujung Kulon ? Anda akan menemukan sorga di sana ! Perjalanan laut selama 4 jam melewati riak tenang dan gelombang tinggi di Tanjung Alang-Alang menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Satu perjalanan menuju surga baru di Pulau Peucang yang di huni oleh rusa, burung merek, dan kadang menemkan Biawak. Pulau yang tidak terlalu luas ternyata memiliki hutan tropis yang sangat lebat dengan pohon-pohon besar yang masih terjadi. Dikelilingi pantai berpasir putih lembut.

Petualangan lainnya ? Banyak orang terkesan mendayung perahu dipagi buta menysur sungai Cigenter. Dikesenyapan pagi, riak hanya sesekali terdengar bunyi air terkena dorongan dayung. Mengamati burung-burung penghuni taman nasional, melihat ular piton yang melingkar di dahan pohon yang menjuntai ke sungai, atau mendengar begitu jelas mendengar kepak sayap burung yang tiba-tiba terbang karena kaget akan kehadiran kita. Padang rumput Cidaun memberikan cirri khas lain sebuah taman nasional. Disinilah masih tersisa Banteng Jawa yang banyak dipakai sebagai symbol kekuatan. Kemudian menyusuri hutan tropis menuju mercusuar menjadi daya tarik tersendiri karena bisa melihat sebagian taman nasional dari puncak mercusuar.

 

Selamat liburan ke Banten, karena “BANTEN LOVE U “

Sembarang JOGJA

December 22nd, 2008
Riyanto - ASPPI Jogja )
Prambanan ( photo : Riyanto - ASPPI Jogja )

Siapa sih yang gak kenal JOGJA ? Sebuah kota budaya, kota pelajar, kota gudeg, kota wisata, kota Batik dan bahkan di era 1990an Jogja mendapatkan julukan tempat berkumpulnya para kebo dan hampir pupuler dengan istilah kota “Kumpul Kebo”.  Istilah terakhir mungkin saja sebuah ekses negatif yang pernah mencuat atas perkembangan kota tersebut. Beruntung istilah itu  mengisi headlines berita nasional hanya beberapa minggu meskipun sempat meresahkan kalangan para orang tua yang anak-anaknya sedang menuntut ilmu di kota ini.

Nama JOGJA yang betul apa sih ?

Kalau saya lebih menyukai menamai kota tersebut JOGJA, tapi ada juga beberapa untuk menunjukan kota yang samadengan menulis Yogja,  Yogya dan  Yogkakarta. Apapun dan bagaimanapun cara ucap dan penulisannya, ternyata semua mengarah pada satu tempat yang sama, JOGJA. Sebuah tempat mempesona dengan kehidupan masyarakat berkultur Jawa aristokrat, keramah-tamahan, Budaya yang kuat, Batik yang halus, makanan dan losmen yang murah dan berkualitas serta banyak hal-hal lain yang menarik.

Klik sana, klik sini iseng di mesin pencarian google. Tanpa referensi dari kamus Besar bahasa Indonesia apalagi dengan mengikuti kaidah metodologi penelitian, ternyata saya menemukan parameter ngawur istilah nama yang paling banyak diakses adalah sebagai berikut :

JOGJA = ditemukan 8,650,000 halaman. Inilah nama yang saya sering ucap dan tuliskan

DJOGDJA = ditemukan 43,200 halaman

Yogja = ditemukan 61,900 halaman

Yogya = ditemukan 3,660,000 halaman

Yogyakarta = ditemukan 19,600,000 halaman. Indikasi yang layak dipercaya inilah mungkin nama yang sebenarnya untuk kota ini.

Jogjakarta = 2,740,000

Hasilnya cukup menarik atas perbedaan seperti dugaan sebelumnya. Masyarakat luas memberi nama dengan istilah yang enak dan mudah baik untuk menulis maupun mengucapkan. Lebih menariknya lagi, istilah kata Yogyakarta yang menjadi urutan pertama lebih banyak ditemukan di tulisan-tulisan resmi badan pemerintah, media masa, lembaga pendidikan. Sedangkan kata JOGJA lebih banyak ditemukan dalam tulisan-tulisan yang tidak formal, majalah hiburan, bahkan setelah diamati, ternyata kata JOGJA lebih banyak diucapkan oleh kalangan orang luar yang bukan warga kota tersebut. Unik, dengan penulisan dan pengucapan yang berbeda tapi tujuannya sama JOGJA menurut saya yang juga bukan orang JOGJA.

Ada pa sih di JOGJA ? dan berapa indikasi secara kuantitativ di mesin mencarian. lagi-lagi kecanduan Google :

Prambanan = Ditemukan 838,000 halaman. Inilah yang diklaim candi tercantik menjadi andalan pariwisata JOGJA secara resmi versi pemerintah. 

Keraton = ditemukan 1,250,000 halaman. Maklum, ini simbol Aritokrat Jawa yang berada dipusat kota dan boleh dikunjungi wisatawan. Bayarnya murah menjakaunya pun mudah.

Borobudur = Ditemukan 1,840,000 halaman. JOGJA sangat diuntungkan oleh jarak yang lebih dekat daripada harus menempuh dari Semarang untuk mengunjungi candi Budha terbesar di dunia ini. Membuktikan kekuasaan teritorial Jawa Tengah hampir tidak berarti dilihat dari pendapatan daerah atas keberadaan candi di wilayahnya.  Sama dengan keberadaan gunung Krakatau milik Lampung yang banyak dijual dari Jakarta dan Banten. Itu namanya keberuntungan. Tapi juga ada destinasi yang dikunjungi banyak orang, menghasilkan banyak devisa tapi tidak menggantungkan keberuntungan. Contoh, orang yang tidak suka nonton Balapan F1 dan MotoGP pun ke Sepang berpanas-panas dan hanya betah di tempat penjualan souvenir menghindari bisingnya balapan jet darat. Mulai hari Sabtu ini menurut teman saya juga yang tertarik magnet Singapore sudah jadi kampung Indonesia, setidaknya dialek Betawi ditemukan di MRT, tempat-tempat makan, tempat-tempat wisata. Jangan tanya di Orchard Road yang katanya sudah seperti pasar senggol mentok sana - mentok sini. “Lebih susah cari orang singapore nya daripada cari orang Indonesia” celotehnya sambil berlama-lama ngobrol sana-sini menggunakan fasilitas roaming international. Beruntung saya, punya teman banyak duit dan menjajikan oleh-oleh . Secara lokasi sebenarnya tidak terlalu beruntung untuk orang-orang dari pulau Jawa karena dibatasi regulasi bayar fiskal untuk menuju ke Singapore. Tapi kenapa magnetnya begitu kuat ? Terbukti lokasi yang dekat hanya keberuntungan yang belum tentu mendatangkan untung. Kurang apa plaza dan mall di Jakarta dan Bandung. Makan enak di Jakarta ?, Bandung ?, Jogja ?, Surabaya ?, Bali ? Asal kuat isi dompet saja sampe usia pensiun mungkin belum kecicip semua.

Apalagi sih yang menarik di JOGJA ? tanya lagi mesin yang dianggap sakti sampai saat ini. Lagi-lagi Google :

Malioboro = ditemukan 666,000 . Angka mencengangkan. Triple 6 sebuah angka mistis seperti mitologi antara hubungan laut selatan, Keraton, tugu, dan gunung Merapi yang berada sejajar dari arah utara ke selatan. Percaya tidak percaya silahkan. Tetapi cerita ini sangat enak dan menarik untuk bahan pemanduan. Salah-salah dikit itu kan bisa dianggap versi, namanya juga mitos.

Mendalami lagi ada apa dan mau apa  di Malioboro ?

Mari tanya google :

Beringharjo = 45,600 halaman

Lesehan = 230,000 halaman

Pasar Kembang = 432,000 halaman

Waduh, ini gimana sih mesin Google. Saya tidak setuju dengan hasil mesin pencarian ini. Ngawur. Mana mungkin dari 666,000 halaman dua pertiga nya menunjukan ke arah Pasar Kembang, sementara yang lesehan hanya sepertiganya. Padahal tidak banyak yang mempromosikan asar Kembang sebagai tujuan wisata. Kasihan pasar Beringharjo yang hanya menempati urutan bontot. Mungkin karena pasar ini sudah kurang nyaman ? keamanan ? Pelayanan ? atau tidak tahu ada pasar di situ ?

Apapun pengucapan dan tulisannya, saya akan kembali liburan ke JOGJA…!!!

Bukan BABEL, tapi Bangka - Belitung

December 17th, 2008

Apaan sih BABEL ?  Masih banyak orang tidak mengenal istilah BABEL. Berbagai pengertian akan muncul tentang arti BABEL bagi orang awam. Mungkin saja ada yang mengertikan suatu nama barang, benda, makanan atau tempat tetapi ragu dimana keberadaan tempat tersebut. Tidak percaya ” coba tulis besar-besar di kertas dan survey ke anak-anak setingkat SMP bahkan SMA. Sebagian besar sebelum menjawab mengerutkan kening atas ketidaktahuannya itu. Hanya sebagian kecil baru bisa menjawab bahwa BABEL adalah singkatan dari sebuah provinsi baru pecahan dari Sumatra Selatan.

www.indonesia-tourism.com )

Peta bangka - Belitung ( source : www.indonesia-tourism.com )

Inilah kesalahan kecil yang bisa menjadi kerugian lebih besar akan hobby aparat pemerintah dengan  singkat menyingkat nama provinsi atau suatu tempat. Bayangkan nasibnya BABEL dengan nama provinsi yang tidak begitu terkenal kemudian namanya disingkat-singkat pula. Dapat diyakini akan makin tenggelam namanya di benak masyarakat Indonesia apalagi mancanegara.  Jadi teringat akan pelajaran SD dulu kita diuji kecakapan menghapal singkatan lembaga pemerintahan dan nama-nama menteri. Kini pelajaran seperti itu tidak lagi diajarkan di sekolah. Diyakini pemerintah provinsi BANGKA - BELITUNG harus kerja keras memperkenalkan istilah nama singkatan BABEL sebagai nama provinsi. Sebaiknya, Sebelum terlanjur jauh,  kenapa tidak kembali ke nama yang sebenarnya yaitu BANGKA - BELITUNG.

BABEL, kenapa bukan BANGKA - BELITUNG ? Meskipun mengucapkannya lebih panjang tetapi masyarakat langsung mengerti bahwa yang dimaksud adalah nama tempat, pulau, meskipun sedikit kesulitan menjelaskan dimana lokasi persisnya tanpa bantuan peta. Inilah pekerjaan rumah yang berat bila masih harus memperkenalkan BABEL sebagai nama provinsi seperti sekarang. Pengalaman, belum semua staff ticketing di Biro Perjalanan Wisata mengerti betul bahwa kota Pangkalpinang itu kota di Bangka karena sering tertukar dengan kota Tanjungpinang sebagai ibukota provinsi Kepulauan Riau yang  berada di pulau Bintan, Sementara Tanjung Pandan itu kota di pulau Belitung.

Ini contoh kasusnyata cerita seorang kawan dari Belitung, Agus Pahlevi dari Levi Tour. Dia mendapat pemesanan tour  dari seorang tamu di Jakarta yang tertarik ke Belitung. Tamu tersebut hanya memerlukan paket tour selama di Belitung saja. Sedangkat tiket pesawat pergi dan pulang akan di urus sendiri di Jakarta. Pada hari yang dijanjikan, kawan saya Agus menjemput di bandara Hanandjoeddin Belitung yang tidak terlalu besar itu. Kawan kita pun kebingungan karena tunggu-punya tunggu tamu yang ditunggu tidak menampakkan dirinya sampai semua penumpang keluar dan mengambil barang. Tiba-tiba tamu yang ditunggu-tunggu menelepon lewat handphone dan kebingungan tidak ada yang menjemput. Telisik punya telisik, ternyata tamu tersebut membeli tiketnya salah tujuan yaitu ke Pangkalpinang pulau Bangka. ” Kiamat sudah “  Agus menceritakan pengalaman tersubut sewaktu berkunjung ke Jakarta minggu lalu. Tamu yang ditunggu mendarat di kota Pangkalpinang pulau Bangka. Sedangkan dari Bangka ke Ke Belitung tidak ada penerbangan. Kesimpulannya, bila tamu menginginkan terbang menuju Belitung dari Bangka, satu-satunya jalan adalah kembali lagi ke Jakarta dan membeli tiket baru ke Tanjung Pandan pulau Belitung. Pilihan lain dari bangka ke Belitung adalah perjalanan kapal cepat semala 4 sampai 5 jam mengarungi selat Gaspar yang berombak cukup tinggi karena menghadap laut Cina Selatan . Itupun hanya ada satu kali pelayaran setiap harinya.

Satu Pelajaran dari istilah BABEL

 Kurang dimengerti apakah menggunakan singkatan BABEL tersebut menjadi program pemerintah daerah setempat untuk menciptakan image baru secara politis sebagai pemersatu kepulauan dalam sebuah provinsi, atau karena hanya lebih pendek pengucapannya tanpa pengkajian dampak ke depan akan semakin sulitnya masyarakat luar Bangka - Belitung mengenal lebih dekat dan akhirnya mengetahui keindahan-keindahan yang terdapat di sana.

Justru solusi yang arif dan baik untuk Bangka - Belitung, maupun masyarakat luar Bangka - Belitung untuk tetap menyandang nama provinsi itu tanpa disingkat-singkat. karena sejak awal, masyarakat bahkan sejak jaman kerajaan Sriwijaya dan kerajaan melayu maupun era kolonial tempat itu sudah dikenal dengan nama Pulau Bangka dan Pulau Belitung.  Sangat tidak diduga, ternyata dengan kecanggihan teknologi masa kini, yaitu internet, mesin pencarian terkemuka GOOGLE sangat miskin menemukan kata  BABEL dalam artian BANGKA atau BELITUNG. Jauh bertolak belakang apabila kita membubuhkan kata pencarian BANGKA atau BELITUNG, maka data yang dimaksud begitu tepat dan terdapat banyak sekali informasi Bangka - Belitung.

Pembenahan rupanya perlu diawali sebelum semuanya berlarut-larut terlalu lama. Karena makin lama kembali ke nama lengkap tanpa singkatan, akan semakin lama pula memperkenalkan keindahan bangka - Belitung ke masyarakat luas yang ingin berwisata ke sana. Mulailah meluruskan pengetahunan masyarakat luar Bangka - Belitung agar benar-benar mengetahui tanpa salah pemahaman bahwa :

Kota Pangkalpinang = Pulau Bangka ( Ibukota Provinsi Bangka - Belitung )

Kota Tanjung Pandan = Pulau Belitung ( Kota terbesar , bandara, pelabuhan )

Kota Tanjung Pinang = Pulau Bintan dekat pulau Batam ( ibukota Kepulaun Riau ).

Belum lagi masih ada tugas lain untuk mengedukasi masyarakat diantara 3 nama provinsi yang mirip dan membingungkan :

1. Provinsi Riau = Ibukotanya Pekanbaru ( dominan daratan di pulau Sumatra )

2. Provinsi Bangka - Belitung = Ibukotanya di Pangkalpinang pulau Bangka.

3. Provinsi Kepulauan Riau = Ibukotanya di Tanjung Pinang pulau Bintan dekat pulau Batam.

Pertanyaan selanjutnya, siapkan pemerintah provinsi Bangka - Belitung untuk mengkaji kembali untuk tidak terbiasa menggunakan singkatan BABEL yang kadang membingungkan dan menambah kosa kata aneh baik dalam benak masyarakat, kamus besar bahasa Indonesia maupun mesin pencarian di internet seperti Google dan Yahoo . Bukankan lebih baik mengurai kesalahan lama daripada menciptakan kebenaran baru yang belum tentu akan menjadi benar yang sesungguhnya.