Archive for the ‘historia’ Category

Bandung 200 tahun lalu

Monday, March 30th, 2009

 

 

 

 

 

 

Lokomotive di depan stasiun Kereta Api Bandung ( private collection )

Lokomotive di depan stasiun Kereta Api Bandung ( private collection )

Salah satu tonggak sejarah pembangunan kota Bandung dari kota kabupaten tradisional menjadi kota yang modern adalah atas perintah Bupati R. A. Wiranatakusumah II akhir tahun 1808 akhir tahun 1809 dalam rangka memindahkan pusat pemerintahan kabupaten Bandung dari  selatan ke sebelah utara dan bertepatan dengan Dutch Indies Governor H. W. Daendels pada tahun 1810 berkunjung memimpin kerjapaksa pembangunan jalan 1000 km.

 

 

:
 ”Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (’Attention! If I come again here, a city must be built!’)
 
Dampak pembangunan jalan ke Bandung, sangat berpengaruh sekali terhadap perkembangan kota yang asri bahkan dijuluki PARIJ VAN JAVA karena selain sebagai kota yang menghasilkan berbagai komoditi perdagangan kelas dunia seperti perkebunan Kina / bahan obat  ( terbesar di Dunia ),  peternakan sapi perah  dan  Perkebunan Teh. Pada saat itu juga berbagai kantor pusat dagang / perusahaan Kolonial dipindahkan ke Bandung seperti Stat Spoor ( Perusahaan Kereta Api ), PTT ( kantor Pos dan Telekomunikasi ), Markas Besar Militer, Radio Pemancar telepon pertama di indonesia karena ketinggian kota membantu pemancar frekwensi lebih jernih ke Belanda ( istilah HALO menjadi inspirasi lagu Halo - Halo Bandung. Karena pada masa awalnya suara telepon kurang jelas jadi sering mengulang-ulang kata Halo serta menjadi bahasa yang unik dan baru bagi masyarakat Bandung ).
 
Keberadaan kota yang sejuk dan didukung dengan fasilitas moderen, maka kota Bandung dikembangan sebagai kota yang tinggal sekaligus peristirahatan untuk kaum kolonial. Hingga sekarang masih banyak tersisa bangunan-angungan sisa kolonial ber-arsitektur Eropa yang disesuaikan dengan alam tropis di Bandung ditata dengan pekarangan yang luas dan taman-taman kota. Maka tak heran bila Bandung juga dijuluki KOTA KEMBANG.
 

Penjara Bawah Tanah Cut Nyak Dhien, Dimana ?

Monday, December 1st, 2008

Tetap berjuang meskipun sudah tua dan sakitKesan pertama melihat penjara bawah tanah yang  pernah dihuni Cut Nyak Dhien sama sekali tidak percaya. Bunker yang sangat lembab, gelap, becek, bau busuk, sempit dan setinggi hanya kurang lebih 130 centimeter membuat siapapun tidak bisa berdiri tegak di penjara itu. Berminggu-minggu, berbulan-bulan. Makan, tidur, bahkan buang hajat sekalipun tetap di tempat yang sama.

Sangat berbeda 180 derajat bila melihat mewahnya Stad Huis atau Gouvernourskantoor yang dibangun 1710 ini dengan keadaan penjara bawah tanahnya. Jelas sekali gedung tersebut tidak hanya untuk pusat pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia, tetapi juga diantisipasi jauh sampai hal-hal persiapan penjara super ketat terhadap pemberontak.  Makan  serangga atau binatang tikus liar adalah santapan mewah karena pemerintah kolonial Belanda kadang memberi makan hanya beberapa  kali seminggu. Sudah bisa dipastikan  bila menghuni penjara ini sulit membedakan waktu siang dan malam karena  letaknya  dibawah penjara bawah tanah masal di Museum Sejarah Jakarta.  Penjara ini memang dibuat khusus untuk tahanan kelas berat pemimpin pembrontak penjajahan sekelas Cut Nyak Dhien.

Dibawah Museum Sejarah JKT Cut Nyak Dhien pernah dipenjara

Dibawah Museum Sejarah JKT Cut Nyak Dhien pernah dipenjara

 Cut Nyak Dhien turun berjuang keluar masuk hutan setelah suaminya Ibrahim Lamnga gugur melawan Belanda tahun 1878. Perjuangan Cut nya Dhien sangat disemangati oleh pemimpin pembrotak Teuku Umar melawan Belanda. Pada tahun 1880 akhirnya Teuku Umar mempersunting Cut Nyak Dhien sebagai istrinya. Mereka berdua bersama-sama melakukan perlawanan terhadap belanda di Aceh.

Teuku Umar pun gugur melawan Belanda di Meulaboh pada tahun 1899. Untuk kedua kalinya Cut Nyak Dhien ditinggal suami karena perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Jiwa perjuangan Cut Nyak Dhien makin membara dan tetap memimpin pembrontakan meskipun dalam keadaan sakit rheumatik dan rabun.

 Setelah pengasingannya ke Batavia atau yang sekarang lebih dikenal dengan Museum Fatahillah, kemudian diasingkan ke Sumedang Jawa barat hingga  meninggal dunia pada tanggal 6 November 1908. .

 

 

 

 

 

Napak Tilas Laksamana Cheng Ho

Friday, November 28th, 2008

 

Salah satu kelenteng untuk perhormatan pada Laksamana Cheng Ho

Salah satu kelenteng untuk perhormatan pada Laksamana Cheng Ho

Nining ASPPI )
ASPPI di depan patung Laksamana Cheng Ho Semarang 29 Oktober ( Photo : Nining ASPPI )

Siapa penemu benua Amerika ? “

seloroh pak Rachman pemandu di Kelenteng Sam Pho Kong Semarang. Otomatis kami semua peserta post tour BTM 29 Oktober lalu yang kebanyakan member ASPPI menjawab ” Christopher Colombus “

” Salah …” kata pak Rahman menimpalnya. Dan kami pun terkaget - kaget.

“Admiral Zheng He(Cheng Ho) atau yang lebih dikenal masyarakat Semarang bernama Sam Pho Kong sebagai pernghormatan, 70 tahun lebih awal tiba di Amerika dibandingkan Colombus. Penjelajahannya hingga mencapai benua Amerika mengambil waktu antara tahun 1421 dan 1423. Membawa armada 100 kapal dan sekitar 28,000 anak buah kapal. Armada kapal Zheng He berlayar menyusuri jalur selatan melewati Afrika dan sampai ke Amerika. Hal ini dibuktikan dalam seminar yang diselenggarakan oleh Royal Geographical Society di London beberapa waktu lalu. Adalah seorang ahli kapal selam dan sejarawan bernama Gavin Menzies dengan paparannya mengenai pelayaran terkenal dari pelaut mahsyur asal Cina, Laksamana Zheng He “ jelas pak Rachman sambil menggiring kita mengarah ke Kelenteng Utama sebagai pernghormatan kepada Laksamana.

Kelenteng tersebut diceritakan adalah tempat pendaratan pertama dan dibuatlah perkampungan darat untuk dijadikan markas selama perjalanan diplomatik ke Nusantara. Hingga akhirnya berkembang dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Dari puluhan ribu awak kapan, mereka memiliki keahlian yang berbeda-beda mulai ahli pertanian, pengobatan, pertukangan dan lain-lain membuat penduduk setempat menyambut gembira dapat saling belajar. Selain keahlian, karena Laksamana Cheng Ho dan sebagian kecil awak kapal beragama muslim, maka beberapa dari mereka memperistri para wanita semarang.

Sungguh bisa dikatakan pelayaran Armada Laut China pada masa Dinasti Ming ini betul-betul mengemban misi perdamaian dan diplomasi ke kerajaan-kerajaan yang dikunjunginya termasuk KEsultanan Demak pada saat itu.