Archive for the ‘Kelana’ Category

LAMPUNG ; Petualangan Dimulai dari Sini ( bagian 1 )

Sunday, January 10th, 2010

Pagi  itu, Kamis  16 Desember  saya, Lilis, Robert, Johan dan Yurike sudah berkumpul di bandara Soekarno-Hatta sudah berkumpul jam 6:45 untuk terbang ke Lampung dengan pesawat Batavia Air keberangkatan jam 08:00. Hanya Budiman yang tidak menampakkan batang hitungnya karena kelelahan setelah sehari sebelumnya kerja lembur di lapangan. Sebenarnya saya sendiri belum mengenal mereka sebelumnya kecuali Lilis, namun suasana segera cair setelah diperkenalkan Lilis.  Mungkin karena merasa satu tujuan kunjungan Familiarization Trip yang diadakan Pemerintah Daerah Provinsi Lampung untuk memperkenalkan kekayaan wisata di sana.

 

Pesawat Batavia  Air Boeing 737-300 yang terisi penuh penumpang take off dengan mulus tenang dalam  keadaan cuaca pagi yang sangat cerah. Benar-benar menjadi 30 menit penerbangan yang menyenangkan. Lilis yang sangat perhatian pada kami semua , Johan yang selalu mengundang obrolan apa saja, sementara Robert lebih menjadi pendengar yang baik sambil senyum-senyum setiap obrolan canda saya, Lilis dan Johan. Justru Yurike juga menjadi objek tertawaan kami karena ia baru mengerti apa yang kami candakan setelah kami tertawa terbahak-bahak sekian lama. “ Lola – loading lama “ kata Lilis.

 

Tiba di bandara Branti tepat waktu, kami sudah disambut oleh teman- teman dari Suku Dinas Pariwisata Provinsi Lampung dan beberapa insan  industri pariwisata seperti mbak Tina dari Hotel Novotel Lampung yang dengan semangat memperkenalkan hotel tersebut  yang masih tahap kontruksi dan baru akan memulai soft opening bulan Maret 2010. Iapun dengan bangganya, bahwa Novotel akan menjadi salah satu hotel terbaik di Telubetung, kota Lampung. Hotel ini memang nantinya akan sangat menarik, karena selain dibangun megah tinggi, juga menempati salah satu bukit yang memiliki panorama ke teluk Lampung yang menawan. Teman seperjalanan kami ternyata masih banyak yang tidak kami sadari teerbang satu pesawat antara lain dari TV swasta, majalah pariwisata, fotographer dan dari national Geografic  yang membawa crew dan kendaraan  4×4 WD Land Rover yang sangat cocok untuk menembus medan sesulit apapun, lengkap dengan segala perlengkapan kamera dan perlengkapan tenda.

 

Yaman aziz, tour guide Fam Trip yang suka mengenakan busana batik ini, mengatakan, Kota Bandar Lampung  yang merupakan ibu kota provisi berpenduduk sekitar 800,000 penduduk menempati seluas 118 km persegi. Lanscape kota itu sendiri terdiri dari daratan pantai dan perbukitan mulai dari Tanjung Karang, Teluk Betung, Panjang  dan sekarang memanjang ke kawasan baru bernama Kedaton.

 

 Keluar kota Bandar Lampung baru mulai terasa satu petualangan yang berbeda. Jalan yang tidak terlalu lebar menyusuri bukit-bukit dengan panorama perkampungan, perkebunan cacao, ladang pertanian, sawah, tambak udang  dan laut teluk Lampung yang biru nun jauh disana.  Jalan yang menurun tak terasa menghantarkan bus wisata yang kami naiki bersama mengantarkan ke bibir pantai Klara yang berpasir putih dan riak ombak laut yang tenang. Terasa rayuan kilau cahaya yang menerpa air laut merayu kami untuk bermanja-manja dan berenang disini. Sayang sekali, rehat kali ini hanya untuk menikmati makan siang nasi Padang yang disediakan panitia dalam kotak kardus

 

Semakin lama, memang keadaan jalan tidak semulus seperti sebelumnya. Sangat disayangkan, satu garis kawasan pantai yang landai dan panjang masih belum terekploitasi dengan maksimum. Ratusan pohon kelapa berjajar indah sepanjang pantai memberikan kesejukan tersendiri. Inilah salah satu alasan kenapa pantai ini diberi nama pantan “ Klara” yang diambil dari singkatan “ Kelapa rapat “ atau pohon kelapa yang tumbuh sepanjang pantai begitu banyak bahkan   masing-masing ujung daun kelapa saling

bersentuhan dengan daun kelapa lainnya memayungi bantaran pantai. Di pantai ini lah saya sempat berkenalan dengan Pak Dar, salah satu tour operator local yang memperkenalkan salah satu wisata pulau Pahawang yang berada persis di hadapan pantai Klara. Menurut pak Dar yang ramah dan santun itu hanya baru dapat menginformasikan bahwa pulau yang samar-samar di hadapan pantai Klara sangat menyimpan banyak pesona. Untuk pecinta snorkeling dan diving, disini banyak terumbu karang yang indah dan tidak terlalu dalam dan terlindung dari arus air karena berada di selat antara pulau Pahawang dan daratan utama Sumatra. Untuk pecinta wisata ekologi, disini masih terselamatkan hutan bakau yang sangat luas yang menjadi sarang berbagai jenis burung pantai bercengkrama. Meskipun belum banyak wisatawan yang mengunjungi pulau Pahawang, tapi disana setidaknya sudah tersedia 5 bungalow yang siap menampung wisatawan sampai 30 sampai 40 orang sekaligus. Bahkan, bila jumlahnya lebih banyak, penduduk dipulau ini yang hamper sebagian sebagai nelayan siap menampung wisatawan sebagai tamu keluarga. Sebuah pengalaman tersendiri berwisata tinggal di rumah nelayan. ( bersambung )

Dayak Setulang ; Penghuni Sorga yang Tersembunyi ( 2/2 habis )

Thursday, May 28th, 2009

Ardi )

Setulang, damai di antara kesunyian. Sayang hanya sedikit sekali yang mengetahuinya ( foto : Ardi )

 

 

Hari ke tiga dan ke empat : Setulang – Tane Olen

Memasuki hutan seluas 5.300 ha, hati akan langsung terpesona saat naik perahu ketinting menelusuri sungai Setulang. Mata akan disuguhi panorama untaian zamrud katulistiwa di kanan kiri sungai beserta kehidupan masyarakatnya. Air sungai yang jernih, udara yang segar menyejukkan hati, batu kecil dan besar yang kadang membentuk giram kecil ditengah atau ditepi sungai Setulang. Pemandangan ini disuguhkan selama sekitar satu jam serasa melewati taman surgawi. Damai, tenang, asri, sunyi. Bahkan suara kepak sayap burung kecil pun begitu terdengar halus menyapa telinga kita.  Jalan surga di akhiri di hingga laga tana olen (pondok istirahat) telah menanti untuk sejenak menikmati kepul teh atau kopi dan kudapan. Perjalanan dapat di mulai dengan mengayunkan kaki menyelusuri jalan setapak / track menuju pohon cifor, pohon berjenis meranti (Shorea sp.) yang ditemukan oleh peneliti CIFOR sebagai titik pengamatan dalam penelitian mereka. Lebih melangkah lagi, hornbill view akan dicapai. Ini adalah point dimana burung enggang sering muncul. Kaze bezu, pohon besar dengan hampir 927 cm besaran kelilingnya dapat dijumpai di kawasan ini. Puncak Mangkok, puncak tertinggi di kawasan ini memberikan pemandangan bentangan alam hutan tropis  bak permadani hijau. Maha Besar Ya Allah. Kau ciptakan keindahan yang membuat kami takjub dan tak dapat mengucapkan satu katapun.

 

Menyusuri setapak kembali ke bush camp melewati Tenapan. Tenapan adalah air terjun kecil. Air terjun yang mengalir ke bawah ditampung di sebuah kolam renang alami, membuat penat hilang saat tubuh menyatu dengan segar airnya. Puas melepas dahaga di kesegaran kolam renang alami, menyusuri sungai menuju laga tana olen pun mendapat suguhan hutan hujan tropis. Suara binatang yang bercengkrama menandakan kegembiraan hidup mereka di hutan yang terjaga baik. Selain burung Enggang (Hornbill) dapat pula dijumpai burung Raja Udang (King Fisher) bermain di atas air sungai dan mencari makan kemudian sesekali hingga di batang pohon. Inikah Taman Sorga ? Beberapa satwa malam juga tak jarang mendatangi laga / bush camp ini untuk sekedar mencari sisa-sisa makanan atau berjalan saja.Hangatnya api unggun kecil menambah hangat suasana hutan tropis bersama dengan secangkir kopi atau teh penggugah selera. Guide yang mendampingi dapat pula menyediakan berbagai masakan tradisional yang diolah dari alam, seperti ikan sungai yang dimasak dengan bambu dan bumbu daun.

 

Day 5 : Setulang – Malinau – Tarakan – Balikpapan

Meninggalkan desa Setulang dengan Tane Olen nya dengan membawa beragam cerita dan pengalaman ditambah beberapa cenderamata menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sayangsekali, suasana kedamaian hati di Setulang sungguh tidak dapat dibidik dengan kamera kecuali datang langsung dan menikmatinya.

 

 

 

Dayak Setulang ; Penghuni Sorga yang tersembunyi ( 1/2 )

Saturday, April 4th, 2009

Memanen Padi, pengalaman yang sangat langka bagi wisatawan ( by Ardi Sayuti )

Memanen Padi, pengalaman yang sangat langka bagi wisatawan ( by Ardi Sayuti )

 

Ardi Sayuti )

Sungai dan hutan di suatu pagi, menyajikan keserasian alam di Setulang ( by : Ardi Sayuti )

Perkampungan Setulang terletak di kabupaten Malinau ,Kalimantan Timur . Mereka mendiami satu sudut sorga kecil yang tersembunyi di Tanah Leluhurnya. Hidup damai bersama alam yang asri. Dimana riak air sungai yang jernih memberikan kesejukan, hutan alami memberikan kemakmuran hidup tanpa rasa takut kelaparan. Nyanyian burung hutan adalah lagu merdu membawa suasana hati penuh kedamaian

Perjalanan menuju Perkampungan Setulang sangatlah mudah ,dimulai dari Balikpapan airport menuju Tarakan dan dilanjutkan dengan perjalanan sungai menggunakan speedboat menuju Malinau dan diteruskan dengan kendaraan Mobil selama 1 jam. Ini adalah perkampungan Dayak yang ber migrasi di tahun 1968 – 1975  dari pedalaman ,tepatnya daerah sungai Saan,dekat Kayan Mentarang. Alasan ber migrasi karena sulitnya mencari kebutuhan pokok termasuk obat-obatan dan pendidikan.Kelompok ini termasuk dalam Komunitas Dayak Kenyah Oma’ Lung .Mereka terbiasa mempertahankan Tanah Adat (Tana Olen) agar selalu mendapatkan air bersih ,Berburu binatang , Ikan dan berladang tempat yang sudah ditentukan secara tradisional agar dapat menjaga kelestarian hutan.

 

 

Hari  pertama : Balikpapan – Tarakan – Malinau

Dimulai dari Balikpapan menuju Tarakan dengan waktu perjalanan satu jam.Tiba di bandara Juata Tarakan, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan speed boat yang bisa mengangkut 20  orang dari pelabuhan Tengkayu menuju pelabuhan Malinau. Terasa sekali aroma petualangan sudah dimulai sejak dari sini. Selama tiga jam dengan speedboat sungguh-sungguh sangat disayangkan untuk di sia-siakan. Semakin jauh mengarungi sungai ke hulu, semakin menarik untuk dinikmati.

 

Kali ini juga saya dapat melihat Bekantan (Nasalis larvatus) bermain di pohon bakau dalam kelombok lumayan banyak dari jarak cukup dekat. Bila beruntung dapat pula melihat beberapa ekor Pesut (Irrawadi dolphin) berenang di alur sungai yang tenang.  Tiba di pelabuhan Malinau, dapat langsung menuju hotel atau dapat langsung menuju perkampugan Setulang

 

Hari kedua : Malinau – Pulau Sapi – Setulang

Tiba di perkampungan Setulang, dapat langsung menuju ke homestay-homestay yang telah disediakan oleh pengelola asli Dayak Setulang dengan sambutan hangat serasa menyambut sodara yang dirindu-rindukan datang. Begitu terasa suasana rumah keluarga Dayak yang hangat dan bisa langsung menjadi bagian dari keluarga mereka. Pengalaman yang tak terlupakan. Di sinipun, dapat dinikmati keindahan arsitektur balai adat Adjang Lideng, lumbung-lumbung padi yang ada di puncak bukit, ukiran kayu pada setiap pintu gerbang, perahu panjang, kuburan masyarakat dayak Kenyah Uma’ Lung yang terletak di seberang desa. Beragam tari-tarian tradisional juga dapat dinikmati, seperti tari tunggal, tari perang dengan diiringi musik tradisional sampeq, alat pukul dari kayu kering.

Kehidupan desa yang tenang dan asri sangat menambah rasa nyaman. Tak jarang dapat pula dijumpai warga desa yang sedang menjemur padi atau kopi di depan rumah, warga yang akan dan pulang berburu di hutan, pengrajin rotan untuk dibuat berbagai barang seperti anjat, tikar; pengrajin Mandau (senjata khas dayak) dan juga pembuat seraung (topi khas dayak). Menikmati suasana malam di desa ini juga tak kalah mengasyikkan. Pengunjung dapat berdiskusi dengan masyarakat tentang sejarah, kehidupan sehari-hari, budaya bersama dengan warga desa.

 ( bersambung )

Cause Banten “LOVE U”

Saturday, January 24th, 2009

Long weekend nge-jomblo ? Pantangan buat orang Jakarta dan sekitarnya. Walau kegiatan kerja sehari-hari sudah melelahkan dari Senin sampai Jumat bahkan Sabtu, tapi untuk urusan long weekend rasanya sayang terlewatkan. Terasa begitu mahal libur long weekend disia-siakan. Musim hujan tahun ini toh belum memasuki puncak curah hujan tertinggi yang biasanya jatuh pada bulan Februari . Sudah beberapa tahun memeng sebagian wilayah Jakarta terginang banjir selalu jatuh pada bulan Februari.

 

So, where we are going ?

Bandung ? emang asik sih shopping dan belanja. Tapi rasanya barusanya ke Bandung menghabiskan pergantian tahun 2008 – 2009. Belum lagi sebulan.

Puncak ? Asik juga kalo sore masih datang kabut, paginya hangat dan cocok untuk bermalas-malasan di villa yang bisa disewa. Tapi kok long weekend Puncak bakal overload. Terbayang kalau salah perhitungan jam berangkat naik ke Puncak bisa bete abis nungguin jalan system one way buka tutup arus naik dan arus bawah. Mungkin cocoknya menghindari long weekend agar terhindar dari macet dan tidak banyak pilihan villa-villa yang bisa di sewa.

 

Go Sport, Banten Love U

Akhirnya ke arah barat Jakarta ternyata tempat pilihan yang tidak salah. Arah Banten yang tidak macet, banyak pilihan dari yang Fun, Sport, relax bahkan petualangan sekalipun.

 

What kind of destination Banten is ?

MARINE SPORT LOVE U : Hamparan pantai yang bersih sepanjang Anyer dan Carita gak kurang menawarkan hotel murah bahkan sampai resort sekelas bintang lima. Relax and sport ternyata asik di sini, dari mulai sekedar kecibang-kecingung di bibir pantai sampai main Jet Sky membelah riak air laut yang segar. Membuat istana pasir sampai bermain games juga asik.

CULTURE & TREKKING LOVE U : Ini salah satu tempat pavorit saya. Hiden place where no one can find me. Ya, Perkampungan Baduy.  Tinggal dan menginap di sini serasa hidup di jaman kedamaian masa kejayaan kerajaan Pajajaran. Hidup di tengah-tengah masyarakat pedesaan yang masih menjunjung tinggi akan kesederhanaan. Menilai sejatinya manusia dari budi luhur dan ketulusan hati. Bukan dari kepinterannya apalagi dari meterinya. Jangan tanya di sana ada apa ? karena memang hampir semua yang ada di Jakarta tidak ada. Tidak ada kendaraan bermotor, pilihan satu-satunya masuk Baduy adalah jalan kaki jalan kaki menusuri bukit, lembah, pancuran air jernih langsung dari perbukitan, hamparan padi ladang, riak sungai jernih menerjang bebatuan dan sesekali cicit burung dan burung Elang melayang mencari mangsa di atas perbukitan. Listirk dan Radio saja ditak ada apalagi televisi. Keheningan adalah hal yang sangat mahal harganya di Jakarta. Suasana damai alam yang asri sudah mustahil di dapat di Ibukota. Hanya ada di Baduy kita bisa melihat gadis-gadis dan wanita menenun kain, lalaki pergi ke Ladang dan anak-anak bercanda riang setiap hari dipekrangan rumah karena belajar yang terbaik adalah dari orang tua dan lingkungan. Bukan dari sekolah. Sebuah jaminan, tak satupun orang Baduy pergi ke sekolah. Makanya satu-satunya kampung di Indonesia bahkan  mungkin satu-satunya di dunia yang tidak mengidamkan adanya pendidikan modern dan bangunan sekolah.  Filsafat “ teu kudu pinter asal bener” atau tidak harus pandai tapi benar yang artinya benar dalam bersikap, komitmen, tidak bohong, tidak curang dan menghindari rasa dengki/jahat. Pengalaman menjadi guru buat mereka. Terbukti ternyata hanya orang pinter yang membohongi dan pemperdaya orang Bodoh karena menurut orang Baduy, ternyata kepinteran adalah amanah yang sangat berat di sandang karena bisa membodohi orang tidak pintar.

 

Arsad help Ita ( private collection )

Arsad help Ita ( private collection )

Apa lagi yang tidak ada ? Ya listrik. Malam hari yang senyap, damai hanya cahaya bintang dan bulan. Dihiasi kerlap kerlip cahaya kunang-kunang menghiasi sekeliling kampung bagai cahaya lampu hias di tangah kota. Damai makin terasa karena dijamin tak ada lagi gangguan telepon dari kolega atau boss Anda. Totally BLANK SPOT in Baduy. Perkampungan terpencil antara lembah-lembah membuat sinyal cellular tidak bisa tembus. Tapi memang orang Baduy tidak sama-sekali memerkukannya.

 

 

 

 

 

ADVENTURE LOVE U : Siapa yang suka tantangan, mangrungi laut sekitar ujung pulau Jawa menyambangi Anak Krakatau yang melegenda dengan letusannya pada Agustus 1883 ? Hampir 40,000 korban jiwa adalah merukapan rekor dunia untuk jamannya yang pada saat itu penduduk pulau Jawa bagian Barat dan Lampung tidak sebanyak sekarang. Rekor suara terkeras terhitung sejak ada peradaban manusia. Cakupannya suara dan debunya sampai jauh ke Australia. Nyaris satu generasi di kawasan sekitar hilang karena dampak letusan itu.

Kono Krakatau begitu mempesona meninggalkan kepulan asap di kawahnya yang masih aktif, dikelilingi pulau kecil berpasir putih dengan ombak yang tanang. Snorkling di antara terumbu karang yang terjaga keasriannya.

Taman Nasional Ujung Kulon ? Anda akan menemukan sorga di sana ! Perjalanan laut selama 4 jam melewati riak tenang dan gelombang tinggi di Tanjung Alang-Alang menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Satu perjalanan menuju surga baru di Pulau Peucang yang di huni oleh rusa, burung merek, dan kadang menemkan Biawak. Pulau yang tidak terlalu luas ternyata memiliki hutan tropis yang sangat lebat dengan pohon-pohon besar yang masih terjadi. Dikelilingi pantai berpasir putih lembut.

Petualangan lainnya ? Banyak orang terkesan mendayung perahu dipagi buta menysur sungai Cigenter. Dikesenyapan pagi, riak hanya sesekali terdengar bunyi air terkena dorongan dayung. Mengamati burung-burung penghuni taman nasional, melihat ular piton yang melingkar di dahan pohon yang menjuntai ke sungai, atau mendengar begitu jelas mendengar kepak sayap burung yang tiba-tiba terbang karena kaget akan kehadiran kita. Padang rumput Cidaun memberikan cirri khas lain sebuah taman nasional. Disinilah masih tersisa Banteng Jawa yang banyak dipakai sebagai symbol kekuatan. Kemudian menyusuri hutan tropis menuju mercusuar menjadi daya tarik tersendiri karena bisa melihat sebagian taman nasional dari puncak mercusuar.

 

Selamat liburan ke Banten, karena “BANTEN LOVE U “

Belitung : Surga fotografer yang hampir terlupakan

Saturday, December 13th, 2008
Momod ASPPI)

Pulau Lengkuas (foto: Momod ASPPI)

Apapun jenis kamera Anda. Bahkan kamera pocket yang beresolusi rendah dan murahan sekalipun tetap akan menghasilkan foto yang indah di Belitung. Inilah salah satu sisi surga kecil yang hampir terlupakan diantara 17,000 lebih pulau di negeri ini.

Momod ASPPI Jul'08)

ideal untuk honeymoon (foto: Momod ASPPI Jul

“Sejatinya kalau memang sudah cantik dibidik dari sisi manapun akan tetap cantik “ dalam hati saya memuja keindahan gugusan kepulauan Belitung. Beruntung orang Belitung sudah menikmati indahnya surga kecil sekian lama. Sayang sekali kecantikan ini hanya baru dinikmati segelintir orang yang pernah menjiarahi surga kecil ini. Padahal untuk menuju ke sana hanya diperlukan waktu terbang sekitar 45 menit dengan harga tiket pesawat yang sangat terjangkau. Bahkan harga tiket relatif tidak fluktuatif di musim liburan akhir tahun seperti bulan Desember ini. Padanannya kira-kira, satu tiket pulang pergi Jakarta - Denpasar - Jakarta, sudah bisa untuk terbang 2 orang Jakarta - Belitung - Jakarta. Murah bukan ?

Lawang Sewu : Menyibak Misteri lorong Uji Nyali

Wednesday, December 3rd, 2008

Lawang Sewu, gedung yang indah namun kumal tak terpelihara, kokoh namun menyisakan kekejaman PD II. Milik Negara bernilai tinggi di pusat kota namun menjadi incaran banyak kepentingan.

 

Kini yang ada hanya kesia-siaan…!!

 

Nining ASPPI 29 Okt 2008 )

Lawang Sewu Semarang ( foto : Nining ASPPI 29 Okt 2008 )

 
Rombongan ASPPI gokil abis, meskipun 3 malam kurang tidur tetapi masih tetap semangat. Sama sekali tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengetahui lebih jelas tentang Semarang sampai ke tempat angker  bawah tanah sekalipun. Rasa penasaran belum puas kalo belum liat langsung tempat tayangan Uji Nyali yang pernah popular di salah satu televisi di Jakarta. Inilah salah satu tayangan paling diminati pemirsa yang dibawakan Harry Panca.
 
 
 
 

 

Begitu bus kami merapat ke lingkar Tugu Muda, sangat jelas sekali gedung Lawang Sewu ini beda dengan bangunan sekitarnya. Lawang Sewu yang artinya gedung yang pintunya sangat banyak. Inilah nama yang diberikan masyarakat Semarang agar mudah menyebutkan gedung milik perusahaan Kerata Api tersebut dari dulu hingga sekarang.  Pintu yang lebar dan tinggi, ditambah jendela yang sangat banyak selolah-olah menyerupai pintu, memang gedung ini tampak begitu banyak selali pintu yang menghubungkan dari satu ruangan ke ruangan lainnya.

 

Nining ASPPI)

kaca patri (foto: Nining ASPPI)

 

 

 

 

 

 

“ Kita harus ke lorong bawah tanah Lawang Sewu. Penasaran gue kalo gak kesana. Mumpung lagi di Semarang” celoteh Nining yang sudah merencanakan jauh-jauh hari pulang dengan pesawat sore karena ingin keliling kota Semarang terlebih dahulu. Bahkan dari sekitar 17 orang peserta post tour Borobudur Trevel mart 29 Oktober 2008 di Semarang sepakat menjadikan kunjungan wajib ke gedung tua bekas milik Nederlandsch Indiche Spoorweg atau perusahaan Kereta Api jaman colonial Belanda. Barangkali arsitektur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sendiri Profesor Klinkkaner dan Quendaag saat membangun gedung ini sejak 1903 - 1907 tidak menyadari akan menjadi salah satu landmark kota Semarang saat ini. Justru gedung ini dibangun dengan ukuran besar dan megah karena perkembangan perkerataapian di Indonesia sedang tumbuh menjadi perusahaan transportasi darat yang penting, modern, menguntungkan dan prestisius. Pertumbuhan hasil bumi yang melimpah dari seluruh penjuru pulau Jawa. Hasil perkebunan Karet, Kopi, Gula Tebu menuntut angkutan missal yang memadai. Sementara jalan Groot Posweg Anyer  Panarukanyang dibangun oleh Gubernur Jendral H. W. Daendels berkuasa sejak 1808 – 1811 sepanjang lebih kurang 1000 kilometer masih tidak dapat memenuhi kebutuhan para pengusaha perkebukan yang menyebar seluruh pelosok Jawa.

Ibu Cenik koordinator  pemandu Lawang Sewu yang juga putri dari Kuncen Lawang Sewu Mbah Ratno menyambut kami dengan hangat. Suasana lembah, tua, dan cat-cat putih di dinding yang sudah mulai memudar semakin  mengesankan sebuah gedung yang penuh misteri.  Eksplorasi misteri pun dimulai dari lobby,  ruang kerja, menara bahkan sampai akhirnya menuju lorong bawah tanah.

Nining ASPPI)

gedung belakang (foto: Nining ASPPI)

 Petualangan baru dimulai. Tak di sangka gedung yang begitu indah dengan cirri-ciri pintu dan jendela yang banyak, ternyata menyisakan cerita mistis. Mungkin karena sejak dibangun hingga sekarang, gedung ini mengalami beberapa alih fungsi. Pada masa sebelum perang dunia II gedung ini begitu kental sebagai ikon bisnis transportasi yang sangat dinamis. Pada saat memasuki PD II, akhirnya Jepang pun menggantikan Belanda memanpaatkan sebagai markas militer. Begitu banyak cerita nestapa para tahanan di sini.

 

 

Lorong bawah tanah yang menyeramkan ini mengelilingi selebar gedung utama. Suasana lembab, gelap dan genangan air membuat setiap pengunjung harus mengenakan sepatu boat karet untuk menyusurinya. Pada awal penciptaannya, lorong tersebut difungsikan sebagai pusat penampungan air apabila terjadi ancaman banjir karena kota Semarang sendiri memang daerah rawan banjir. Namun, pada masa pergolakan PD II baik Belanda maupun Jepang memanfaatkannya sebagai penjara, bungker, gudang amunisi dan jalan rahasia untuk keluar masuk kawasan gedung termasuk mengintrogasi musuh dan mata-mata menggunakan kekerasan. Begitu banyak ruang-ruang yang dijadikan penjara di sini. Tampak jelas penjara yang sangat sempit konon dulu dihuni oleh banyak tahanan sehingga mereka nyaris tidak dapat duduk karena terlalu padat di isi sangat banyak tahanan. Belum lagi penjara jongkok yang diisi air sementara tahanan hanya bisa menongolkan kepalanya saja karena ditatasnya ditutup jeruji besi.

Korban tahanan dari lorong bawah tanah banyak sekali berguguran. Baik dikarenakan penyiksaan, penyakit maupun kelaparan.  Para korban tahanan tersebut secara rahasia dibuang ke kanal samping gedung yang mengalir ke sungai yang lebih lebar. Hampir semua warga semarang tidak menyadari bahwa mayat-mayat tersebut dari buangan tahanan lawang sewu.

“ Di sini dulu digunakan sebagai siaran langsung tempat Uji Nyali yang terkenal itu “ kata bu Cenik sambil menunjukkan jarinya kea rah lorong yang akan kami lewati.

“ihhh serem…” salah satu peserta wisata bawah tanah penimpalinya sambil merapat ke tengah-tengah rombongan.

Kampung Baduy

Tuesday, November 18th, 2008
Suatu sore di kampung Leuwi Buleud

Suatu sore di kampung Leuwi Buleud ( foto by : Romy R. Mahmud )

Program wisata yang satu ini sangat menarik para pecinta wisata yang sedikit berpetualang untuk mengungkap rahasia sebuah perkampungan masyarakat Baduy. Rasa penasaran para perserta wisata sangat tinggi untuk melihat sebuah perkampungan yang damai, asri, dimana mereka mendiami rumah-rumah bambu beratap rumbia yang dibangun di lembah bukit dan berbatasan dengan sungai Ciujung yang jernih mengalir menerpa bebatuan alam. Sungguh perpaduan keserasian alam yang memberikan kesejukan dan kedamaian baik bagi masyarakat Baduy maupun para wisatawan yang berkunjung ke sana.

Setelah berkendara 4 jam atau sekitar 140 km dari Jakarta tepatnya di kabupaten Lebak, Banten. Jalan toll Merak yang mulus membawa kami dapat menikmati sepanjang perjalanan. Suasana perjalanan semakin menarik setelah keluar toll Merak menuju Lebak. Sepanjang perjalanan akan disajikan panorama sawah, sungai, ladang dan perkampungan. Tibalah di kampung Ciboleger yang berbatasan langsung dengan perkampungan Baduy. Di sinilah tempat terdekat yang bisa di akses dengan kendaraan untuk memasuki perkampungan Baduy.

Meskipun perkampungan masyarakat berada tidak terlalu jauh dari Jakarta sebagai ibukota yang bisa menjadi ukuran kehidupan paling modern ditanah air, namun masyarakat Baduy masih memiliki adat istiadat yang kuat mempertahankan tradisi hidup sederhana tanpa harus mengikuti dan menggunakan perlengkapan modern seperti kendaraan bermotor, televisi, radio dan sekolah. Bahkan untuk masyarakat Baduy dalam yang mendiami kampung Cibeo, Cikertawarna dan Cikeusik sama-sekali berpantangan menaiki kendaraan bermotor bila bepergian jauh sekalipun. Suatu hal yang biasa bila bepergian jauh seperti ke Jakarta mereka berjalan kaki selama 3 hari.