Archive for the ‘Opini’ Category

Air Asia Tergugat : Saatnya - Pelanggan Adalah Raja

Friday, February 12th, 2010

Membaca berita  di situs warta digital detik.com sore ini, rupanya keadilan di dunia pelayanan penerbangan komersial mulai menampakkan tanda-tanda. Setidaknya untuk kasus yang dialami Hastjarjo Boedi Wibowo yang menang dipengadilan Negeri Tangerang atas gugatannya terhadap kerugian yang diderita atas pembatalan sepihak dari Air Asia. Meski kasus ini bukan yang pertama kali, setidaknya hal ini harus disambut baik karena akan mengingatkan maskapai penerbangai lainnya yang tidak memperlalukan secara adil terhadap penumpangnya.

(more…)

Menunggu jadi tak Terasa Lama di Soekarno-Hatta

Sunday, August 2nd, 2009

Semua mungkin sependapat, kadang menunggu sangatlah menjemukan. Bagaimana tidak hari Minggu, Jam 9 pagi sudah harus ada di Bandara Soekarno-Hatta JKT karena ada kedatangan tamu dengan Singapore Airlines SQ 956 tiba jam 09:40, baru saja selesai check in di Jakarta Airport Hotel dan baru sedikit bernafas, ternyata harus menjemput dgn Thai Airways TG 433 kedatangan jam 11:35. Beres check in, masih ada lagi menunggu kedatangan emirat EK 356 kedatangan jam 15:55.  Seneng sih masih ada wisatawan asing yg mau datang ke Indonesia meskipun pasca bom di JW Marriot / Ritz Carlton buat mereka bukan hal yang menakutkan. Bahkan masih mau menyusuri pelosok  Indonesia mulai dari penangkaran Orang Utandi  Tanjungputing, Melihat pedalaman suku Dayak di sungai Mahakam, diving di  pulau Derawan kalimantan Timur, berlanjut ke Toraja, Lembah Baliem, Pulau Komodo dan berakhir di Bali selama 27 hari. Sebuah perjalanan yg sangat banyak didambakan para petualang dari daratan eropa dan Amerika sana.

bersyukur kesempatan penunggu yg cukup lama sekitar 3 jam di bandara mendapatkan sedikit penghibur. dari sekedar nyasar cari resaurant tempat rehat dan minun dan bisa browsing atau chat dan liat-liat e-mail maka sudah dipersiapkan dari rumah seperangkat laptop, charter lengkap dengan modemnya.

Selesai pesan minum teh panas dan Kentang Goreng senilai Rp. 16,500 di TOREORE CHECKEN & JOY Terminal 2F, dikeluarkanlah senjata dalam ransel gendong sambil minta izin menggunakan listrik biar battery tidak drop. Waiter yang ramah dengan senyum yang manis terkulum dengan senang hati menunjukkan bahkan membantu mengulur kabel battery. Wah, baru kali ini saya dilayani seperti Raja di sebuah restaurant cepat saji. Sebuah nilai lebih dari sekedar menyajikan ganjal perut dan membasuh tenggorokan yang kering. Begitu laptop dinyalakan, dan modem internet pun di pasang, sang waiter menyapa sambil terheran ” Kok masih pake modem sendiri pak, kan disini udah FREE WiFi dan bapak bisa internetan sepuasnya” kata sang waiter yang ramah dan manis itu. ” Speed nya lumayan kok pakrata-rata  54 Kbps ” tambahnya lagi. ” lho, sering internetan ya ? ” tanya saya. ” Iya pak, saya sering bantuin setting passworld sampai betul-betul bisa tersambung, jadi saya tahu speed nya, soalnya beberapa tamu kadang minta tolong dikoneksikan ” dengan nada yakin membantu memasukan password yang katanya setiap hari diganti oleh manager agar tidak dimanpaatkan oleh orang-orang yang bukan tamu disisni.

Internet pun tersambung, sang waiter pamitan mau mengantarkan makanan yang sudah saya pesan. Wah, nilai tambah lagi buat seorang pelanggan. Makanan diantarkan sampai ke meja dan saya bisa asik membuka e-mail yang masuk.

Saya baru menyadari, ternyata di airport sekelas internasional yang sibuk di Jakarta ini pihak pengelolanya belum bisa menyediakan fasilitas internet gratis buat para penumpang yang datang maupun berangkat. Sungguh seribu langkah tertinggal oleh bandara internasional di negeri tetangga seperti Changi, Kualalumpur dan Hongkong yang dengan mudahnya menemukan fasilitas internet cuma-cuma. Pikir-pikir, seberapa mahalnya sih jaringan wireless untuk internet gatis. Padahal, setiap penumpang yang berangkat dikenakan Rp. 150,000 per orang untuk penerbangan internasional dan Rp. 40,000 per orang untuk keberangkatan dalam negeri. Ribuan orang berangkat dari bandara Sukarno-hatta. Terbayang begitu besar pemasukan bandara ini mulai dari setiap centi meter yang di komersilkan seperti gerai makanan, taxi, parkir pesawat, parkir mobil, dan masih banyak pendapatan PT. Angkasa Pura ( Persero ) ini. Tetapi kok fasilitas semurah ini masih belum bisa diakses secara cuma-cuma dari pihak pengelola bandara ? Bila dibandingkan dengan TOREORE yang hanya menempati sejengkal bandara yang pengunjungnya tidak memenuhi sekitar 100 kursi saja bisa.

Sungguhkah kalau pengelola bandara ini tidak menyadari akan hakikinya sebuah pelayanan ? atau memang para pimpinannya tidak melek teknologi. ah, mungkin tidak peduli meskipun mereka sering bolak-balik singgah di Changi dan nyata-nyata fasilitas Free WiFi sekarang ini sama pentingnya  dengan menyediakan toilet yang selalu bersih dan wangi.

Ya sudah lah, beruntung ada TOREORE yang menyadari bahwa bisnis dibandara memang harus cerdas menangkap apa yang diinginkan para pengunjungnya. lain kali sya jadi merasa yakin, bila ke airport tidak akan repot-repot mencari warnet untuk membuka e-mail. Cukup membeli secangkir teh hangat senilai Rp. 6,500 sudah bisa berinternet sepuasnya.

Sembarang JOGJA

Monday, December 22nd, 2008
Riyanto - ASPPI Jogja )
Prambanan ( photo : Riyanto - ASPPI Jogja )

Siapa sih yang gak kenal JOGJA ? Sebuah kota budaya, kota pelajar, kota gudeg, kota wisata, kota Batik dan bahkan di era 1990an Jogja mendapatkan julukan tempat berkumpulnya para kebo dan hampir pupuler dengan istilah kota “Kumpul Kebo”.  Istilah terakhir mungkin saja sebuah ekses negatif yang pernah mencuat atas perkembangan kota tersebut. Beruntung istilah itu  mengisi headlines berita nasional hanya beberapa minggu meskipun sempat meresahkan kalangan para orang tua yang anak-anaknya sedang menuntut ilmu di kota ini.

Nama JOGJA yang betul apa sih ?

Kalau saya lebih menyukai menamai kota tersebut JOGJA, tapi ada juga beberapa untuk menunjukan kota yang samadengan menulis Yogja,  Yogya dan  Yogkakarta. Apapun dan bagaimanapun cara ucap dan penulisannya, ternyata semua mengarah pada satu tempat yang sama, JOGJA. Sebuah tempat mempesona dengan kehidupan masyarakat berkultur Jawa aristokrat, keramah-tamahan, Budaya yang kuat, Batik yang halus, makanan dan losmen yang murah dan berkualitas serta banyak hal-hal lain yang menarik.

Klik sana, klik sini iseng di mesin pencarian google. Tanpa referensi dari kamus Besar bahasa Indonesia apalagi dengan mengikuti kaidah metodologi penelitian, ternyata saya menemukan parameter ngawur istilah nama yang paling banyak diakses adalah sebagai berikut :

JOGJA = ditemukan 8,650,000 halaman. Inilah nama yang saya sering ucap dan tuliskan

DJOGDJA = ditemukan 43,200 halaman

Yogja = ditemukan 61,900 halaman

Yogya = ditemukan 3,660,000 halaman

Yogyakarta = ditemukan 19,600,000 halaman. Indikasi yang layak dipercaya inilah mungkin nama yang sebenarnya untuk kota ini.

Jogjakarta = 2,740,000

Hasilnya cukup menarik atas perbedaan seperti dugaan sebelumnya. Masyarakat luas memberi nama dengan istilah yang enak dan mudah baik untuk menulis maupun mengucapkan. Lebih menariknya lagi, istilah kata Yogyakarta yang menjadi urutan pertama lebih banyak ditemukan di tulisan-tulisan resmi badan pemerintah, media masa, lembaga pendidikan. Sedangkan kata JOGJA lebih banyak ditemukan dalam tulisan-tulisan yang tidak formal, majalah hiburan, bahkan setelah diamati, ternyata kata JOGJA lebih banyak diucapkan oleh kalangan orang luar yang bukan warga kota tersebut. Unik, dengan penulisan dan pengucapan yang berbeda tapi tujuannya sama JOGJA menurut saya yang juga bukan orang JOGJA.

Ada pa sih di JOGJA ? dan berapa indikasi secara kuantitativ di mesin mencarian. lagi-lagi kecanduan Google :

Prambanan = Ditemukan 838,000 halaman. Inilah yang diklaim candi tercantik menjadi andalan pariwisata JOGJA secara resmi versi pemerintah. 

Keraton = ditemukan 1,250,000 halaman. Maklum, ini simbol Aritokrat Jawa yang berada dipusat kota dan boleh dikunjungi wisatawan. Bayarnya murah menjakaunya pun mudah.

Borobudur = Ditemukan 1,840,000 halaman. JOGJA sangat diuntungkan oleh jarak yang lebih dekat daripada harus menempuh dari Semarang untuk mengunjungi candi Budha terbesar di dunia ini. Membuktikan kekuasaan teritorial Jawa Tengah hampir tidak berarti dilihat dari pendapatan daerah atas keberadaan candi di wilayahnya.  Sama dengan keberadaan gunung Krakatau milik Lampung yang banyak dijual dari Jakarta dan Banten. Itu namanya keberuntungan. Tapi juga ada destinasi yang dikunjungi banyak orang, menghasilkan banyak devisa tapi tidak menggantungkan keberuntungan. Contoh, orang yang tidak suka nonton Balapan F1 dan MotoGP pun ke Sepang berpanas-panas dan hanya betah di tempat penjualan souvenir menghindari bisingnya balapan jet darat. Mulai hari Sabtu ini menurut teman saya juga yang tertarik magnet Singapore sudah jadi kampung Indonesia, setidaknya dialek Betawi ditemukan di MRT, tempat-tempat makan, tempat-tempat wisata. Jangan tanya di Orchard Road yang katanya sudah seperti pasar senggol mentok sana - mentok sini. “Lebih susah cari orang singapore nya daripada cari orang Indonesia” celotehnya sambil berlama-lama ngobrol sana-sini menggunakan fasilitas roaming international. Beruntung saya, punya teman banyak duit dan menjajikan oleh-oleh . Secara lokasi sebenarnya tidak terlalu beruntung untuk orang-orang dari pulau Jawa karena dibatasi regulasi bayar fiskal untuk menuju ke Singapore. Tapi kenapa magnetnya begitu kuat ? Terbukti lokasi yang dekat hanya keberuntungan yang belum tentu mendatangkan untung. Kurang apa plaza dan mall di Jakarta dan Bandung. Makan enak di Jakarta ?, Bandung ?, Jogja ?, Surabaya ?, Bali ? Asal kuat isi dompet saja sampe usia pensiun mungkin belum kecicip semua.

Apalagi sih yang menarik di JOGJA ? tanya lagi mesin yang dianggap sakti sampai saat ini. Lagi-lagi Google :

Malioboro = ditemukan 666,000 . Angka mencengangkan. Triple 6 sebuah angka mistis seperti mitologi antara hubungan laut selatan, Keraton, tugu, dan gunung Merapi yang berada sejajar dari arah utara ke selatan. Percaya tidak percaya silahkan. Tetapi cerita ini sangat enak dan menarik untuk bahan pemanduan. Salah-salah dikit itu kan bisa dianggap versi, namanya juga mitos.

Mendalami lagi ada apa dan mau apa  di Malioboro ?

Mari tanya google :

Beringharjo = 45,600 halaman

Lesehan = 230,000 halaman

Pasar Kembang = 432,000 halaman

Waduh, ini gimana sih mesin Google. Saya tidak setuju dengan hasil mesin pencarian ini. Ngawur. Mana mungkin dari 666,000 halaman dua pertiga nya menunjukan ke arah Pasar Kembang, sementara yang lesehan hanya sepertiganya. Padahal tidak banyak yang mempromosikan asar Kembang sebagai tujuan wisata. Kasihan pasar Beringharjo yang hanya menempati urutan bontot. Mungkin karena pasar ini sudah kurang nyaman ? keamanan ? Pelayanan ? atau tidak tahu ada pasar di situ ?

Apapun pengucapan dan tulisannya, saya akan kembali liburan ke JOGJA…!!!

Bukan BABEL, tapi Bangka - Belitung

Wednesday, December 17th, 2008

Apaan sih BABEL ?  Masih banyak orang tidak mengenal istilah BABEL. Berbagai pengertian akan muncul tentang arti BABEL bagi orang awam. Mungkin saja ada yang mengertikan suatu nama barang, benda, makanan atau tempat tetapi ragu dimana keberadaan tempat tersebut. Tidak percaya ” coba tulis besar-besar di kertas dan survey ke anak-anak setingkat SMP bahkan SMA. Sebagian besar sebelum menjawab mengerutkan kening atas ketidaktahuannya itu. Hanya sebagian kecil baru bisa menjawab bahwa BABEL adalah singkatan dari sebuah provinsi baru pecahan dari Sumatra Selatan.

www.indonesia-tourism.com )

Peta bangka - Belitung ( source : www.indonesia-tourism.com )

Inilah kesalahan kecil yang bisa menjadi kerugian lebih besar akan hobby aparat pemerintah dengan  singkat menyingkat nama provinsi atau suatu tempat. Bayangkan nasibnya BABEL dengan nama provinsi yang tidak begitu terkenal kemudian namanya disingkat-singkat pula. Dapat diyakini akan makin tenggelam namanya di benak masyarakat Indonesia apalagi mancanegara.  Jadi teringat akan pelajaran SD dulu kita diuji kecakapan menghapal singkatan lembaga pemerintahan dan nama-nama menteri. Kini pelajaran seperti itu tidak lagi diajarkan di sekolah. Diyakini pemerintah provinsi BANGKA - BELITUNG harus kerja keras memperkenalkan istilah nama singkatan BABEL sebagai nama provinsi. Sebaiknya, Sebelum terlanjur jauh,  kenapa tidak kembali ke nama yang sebenarnya yaitu BANGKA - BELITUNG.

BABEL, kenapa bukan BANGKA - BELITUNG ? Meskipun mengucapkannya lebih panjang tetapi masyarakat langsung mengerti bahwa yang dimaksud adalah nama tempat, pulau, meskipun sedikit kesulitan menjelaskan dimana lokasi persisnya tanpa bantuan peta. Inilah pekerjaan rumah yang berat bila masih harus memperkenalkan BABEL sebagai nama provinsi seperti sekarang. Pengalaman, belum semua staff ticketing di Biro Perjalanan Wisata mengerti betul bahwa kota Pangkalpinang itu kota di Bangka karena sering tertukar dengan kota Tanjungpinang sebagai ibukota provinsi Kepulauan Riau yang  berada di pulau Bintan, Sementara Tanjung Pandan itu kota di pulau Belitung.

Ini contoh kasusnyata cerita seorang kawan dari Belitung, Agus Pahlevi dari Levi Tour. Dia mendapat pemesanan tour  dari seorang tamu di Jakarta yang tertarik ke Belitung. Tamu tersebut hanya memerlukan paket tour selama di Belitung saja. Sedangkat tiket pesawat pergi dan pulang akan di urus sendiri di Jakarta. Pada hari yang dijanjikan, kawan saya Agus menjemput di bandara Hanandjoeddin Belitung yang tidak terlalu besar itu. Kawan kita pun kebingungan karena tunggu-punya tunggu tamu yang ditunggu tidak menampakkan dirinya sampai semua penumpang keluar dan mengambil barang. Tiba-tiba tamu yang ditunggu-tunggu menelepon lewat handphone dan kebingungan tidak ada yang menjemput. Telisik punya telisik, ternyata tamu tersebut membeli tiketnya salah tujuan yaitu ke Pangkalpinang pulau Bangka. ” Kiamat sudah “  Agus menceritakan pengalaman tersubut sewaktu berkunjung ke Jakarta minggu lalu. Tamu yang ditunggu mendarat di kota Pangkalpinang pulau Bangka. Sedangkan dari Bangka ke Ke Belitung tidak ada penerbangan. Kesimpulannya, bila tamu menginginkan terbang menuju Belitung dari Bangka, satu-satunya jalan adalah kembali lagi ke Jakarta dan membeli tiket baru ke Tanjung Pandan pulau Belitung. Pilihan lain dari bangka ke Belitung adalah perjalanan kapal cepat semala 4 sampai 5 jam mengarungi selat Gaspar yang berombak cukup tinggi karena menghadap laut Cina Selatan . Itupun hanya ada satu kali pelayaran setiap harinya.

Satu Pelajaran dari istilah BABEL

 Kurang dimengerti apakah menggunakan singkatan BABEL tersebut menjadi program pemerintah daerah setempat untuk menciptakan image baru secara politis sebagai pemersatu kepulauan dalam sebuah provinsi, atau karena hanya lebih pendek pengucapannya tanpa pengkajian dampak ke depan akan semakin sulitnya masyarakat luar Bangka - Belitung mengenal lebih dekat dan akhirnya mengetahui keindahan-keindahan yang terdapat di sana.

Justru solusi yang arif dan baik untuk Bangka - Belitung, maupun masyarakat luar Bangka - Belitung untuk tetap menyandang nama provinsi itu tanpa disingkat-singkat. karena sejak awal, masyarakat bahkan sejak jaman kerajaan Sriwijaya dan kerajaan melayu maupun era kolonial tempat itu sudah dikenal dengan nama Pulau Bangka dan Pulau Belitung.  Sangat tidak diduga, ternyata dengan kecanggihan teknologi masa kini, yaitu internet, mesin pencarian terkemuka GOOGLE sangat miskin menemukan kata  BABEL dalam artian BANGKA atau BELITUNG. Jauh bertolak belakang apabila kita membubuhkan kata pencarian BANGKA atau BELITUNG, maka data yang dimaksud begitu tepat dan terdapat banyak sekali informasi Bangka - Belitung.

Pembenahan rupanya perlu diawali sebelum semuanya berlarut-larut terlalu lama. Karena makin lama kembali ke nama lengkap tanpa singkatan, akan semakin lama pula memperkenalkan keindahan bangka - Belitung ke masyarakat luas yang ingin berwisata ke sana. Mulailah meluruskan pengetahunan masyarakat luar Bangka - Belitung agar benar-benar mengetahui tanpa salah pemahaman bahwa :

Kota Pangkalpinang = Pulau Bangka ( Ibukota Provinsi Bangka - Belitung )

Kota Tanjung Pandan = Pulau Belitung ( Kota terbesar , bandara, pelabuhan )

Kota Tanjung Pinang = Pulau Bintan dekat pulau Batam ( ibukota Kepulaun Riau ).

Belum lagi masih ada tugas lain untuk mengedukasi masyarakat diantara 3 nama provinsi yang mirip dan membingungkan :

1. Provinsi Riau = Ibukotanya Pekanbaru ( dominan daratan di pulau Sumatra )

2. Provinsi Bangka - Belitung = Ibukotanya di Pangkalpinang pulau Bangka.

3. Provinsi Kepulauan Riau = Ibukotanya di Tanjung Pinang pulau Bintan dekat pulau Batam.

Pertanyaan selanjutnya, siapkan pemerintah provinsi Bangka - Belitung untuk mengkaji kembali untuk tidak terbiasa menggunakan singkatan BABEL yang kadang membingungkan dan menambah kosa kata aneh baik dalam benak masyarakat, kamus besar bahasa Indonesia maupun mesin pencarian di internet seperti Google dan Yahoo . Bukankan lebih baik mengurai kesalahan lama daripada menciptakan kebenaran baru yang belum tentu akan menjadi benar yang sesungguhnya.