Archive for November, 2008

Napak Tilas Laksamana Cheng Ho

Friday, November 28th, 2008

 

Salah satu kelenteng untuk perhormatan pada Laksamana Cheng Ho

Salah satu kelenteng untuk perhormatan pada Laksamana Cheng Ho

Nining ASPPI )
ASPPI di depan patung Laksamana Cheng Ho Semarang 29 Oktober ( Photo : Nining ASPPI )

Siapa penemu benua Amerika ? “

seloroh pak Rachman pemandu di Kelenteng Sam Pho Kong Semarang. Otomatis kami semua peserta post tour BTM 29 Oktober lalu yang kebanyakan member ASPPI menjawab ” Christopher Colombus “

” Salah …” kata pak Rahman menimpalnya. Dan kami pun terkaget - kaget.

“Admiral Zheng He(Cheng Ho) atau yang lebih dikenal masyarakat Semarang bernama Sam Pho Kong sebagai pernghormatan, 70 tahun lebih awal tiba di Amerika dibandingkan Colombus. Penjelajahannya hingga mencapai benua Amerika mengambil waktu antara tahun 1421 dan 1423. Membawa armada 100 kapal dan sekitar 28,000 anak buah kapal. Armada kapal Zheng He berlayar menyusuri jalur selatan melewati Afrika dan sampai ke Amerika. Hal ini dibuktikan dalam seminar yang diselenggarakan oleh Royal Geographical Society di London beberapa waktu lalu. Adalah seorang ahli kapal selam dan sejarawan bernama Gavin Menzies dengan paparannya mengenai pelayaran terkenal dari pelaut mahsyur asal Cina, Laksamana Zheng He “ jelas pak Rachman sambil menggiring kita mengarah ke Kelenteng Utama sebagai pernghormatan kepada Laksamana.

Kelenteng tersebut diceritakan adalah tempat pendaratan pertama dan dibuatlah perkampungan darat untuk dijadikan markas selama perjalanan diplomatik ke Nusantara. Hingga akhirnya berkembang dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Dari puluhan ribu awak kapan, mereka memiliki keahlian yang berbeda-beda mulai ahli pertanian, pengobatan, pertukangan dan lain-lain membuat penduduk setempat menyambut gembira dapat saling belajar. Selain keahlian, karena Laksamana Cheng Ho dan sebagian kecil awak kapal beragama muslim, maka beberapa dari mereka memperistri para wanita semarang.

Sungguh bisa dikatakan pelayaran Armada Laut China pada masa Dinasti Ming ini betul-betul mengemban misi perdamaian dan diplomasi ke kerajaan-kerajaan yang dikunjunginya termasuk KEsultanan Demak pada saat itu.

Gangan Ikan Belitung

Monday, November 24th, 2008

Perjalanan ke Belitung yang pertama kali bulan Agustus 2008 membuat saya dan peserta Famtrip ( Familiarizatoin Trip ) dapat mengenal banyak sekali hal-hal menarik yang selama ini terabaikan. Setelah menyebrang selat Gaspar , perjalanan dengan kapal cepat dari Bangka ke Belitung selama 4 jam akhirnya sampai juga di pelabuhan Tanjung Pandan, kota terbesar di  pulau Belitung.

 

Perkenalan pertama kali menginjakkan kaki di Belitung adalah  makan sayur Gangan Ikan. Inilah kesan pertama yang susah dilupakan. Sehingga mindset saya sudah terpola, bahwa belum ke Belitung kalau belum makan sayur Gangan Ikan. Setidaknya buat para pecinta masakan Nusantara, Gangan Ikan memang menawarkan sensasi rasa yang berbeda olahan lainnya di Nusantara. Jenis makanan seperti ini bahkan sulit ditemukan padanannya baik di daerah penghasil ikan laut yang melimpah sekalipun seperti Maluku, Sulawesi Selatan, Biak dan daerah kepulauan.

 

Gangan adalah salah satu cirri khas masakan rumahan sehari-hari penduduk Belitung.

Namun, diduga kuat terciptanya Gangan Ikan yang sedap seperti sekarang juga dipengaruhi oleh penduduk keturunan asal China yang jumlahnya hamper 20 persen. Bahkan ada yang berpendapat ada kehadiran dan pengaruh suku Bugis dalam olahan Gangan.

 

Dari penampilannya, awalnya kami menyambut biasa-biasa saja. Hanya Semangkuk besar sayur berkuah kuning, sedikit menonjol potongan daging ikan laut yang kadang durinya menyeruak keluar kontur daging. Aroma ikan dan rempah kunyit yang menguap dari asap begitu terasa mengundang menyusuri rongga hidung hingga menembus saraf lidah. Satu sendok pertama saya rasakan sangat memberikan sensasi unik di lidah. Rasa Pedas ciri khas makanan Melayu, Amis ikan segar mencirikan masakan pesisir, Asam dari buah Nanas yang mengingatkan saya makan masakan Tom Yam. Unik nya lagi, aroma segar kunyit melengkapi penggugak selera sebagai pengganti sup.

 

Sebuah pusaka kuliner warisan  leluhur milik orang Belitung ini seharusnya bisa mendunia sekalas Tom Yam. Bahkan bila dikreasikan dan diperkenalkan ke dunia luar, mungkin bisa disejajarkan sup hisit atau disejajarkan makanan pembuka berkelas bertengger di urutan menu paling atas restaurant-restaurant ternama di kota-kota besar di Indonesia yang kaya akan hasil laut.

 

Sayang sekali, sampai sekarang, begitu sulit menemukan restaurant yang menyajikan Gangan diluar Belitung. Mengapa hanya Sayur Asam, Sup Kimlo dan Soto yang berani bertengger di jajaran daftar menu restaurant di kota-kota besar. Padahal Gangan tidak kalah mencirikan rasa khas yang penuh sensasi bagi penikmat ragam makanan di Nusantara.

ASPPI, blog sana blog sini blog anywhere

Thursday, November 20th, 2008

Ini sebuah loncatan satu tangga buat member ASPPI. Tak diduga mandapat undangan tiba-tiba untuk mengikuti pelatihan belajar mahluk aneh yang namanya BLOG. Undangan itu dikirim  pada saat kami asyik menikmati liburan akhir pekan, 16 November 2008 melalui milis ASPPI oleh moderator. Tentu saya kami kebanyakan baru mengetahui undangan tersebut pada hari Senin pagi setelah membaca milis di kantor. Undangan itu sebenarnya dari  Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang bekerjasama dengan Lapi Divusi menyelenggarakan  Sosialisasi dan pelatihan promosi elektronis dan promosi website pariwisata dari tanggal 17 – 19 November 2008. Undangan disediakan sekitar 50 orang peserta terdiri dari kalangan industri pariwisata di DKI seperti Travel Agent, Hotel, Restaurant dan segala hal yang berkaitan dengan usaha kepariwisataan.

Kegembiraan di antara teman-teman sebagai insan pariwisata yang bergabung dalam ASPPI tentu saja dinyambut gembira dan bingung. Satu hal pelatihan itu sangat bagus dan bermanfaat. Satu hal lain kami sangat ragu untuk meninggalkan pekerjaan rutin dua hari penuh untuk mengikuti pelatihan. Akhirnya, karena kesadaran pentingnya pelatihan tersebut maka diputuskan memanfaatkan kesempatan langka ini. Pelatihan yang sama sebelumnya telah digelas di Jogja, Manado dan Bali beberapa saat seketika  kapasitas maksimum ruangan meeting di hotel Ibis Arcadia hampir tidak dapat menampung lagi. “ Gak apa terlambat datang yang penting dapat ilmu baru “ seloroh salah-satu teman melalui telepon selularnya sambil berkemas meninggalkan kantor. Inilah kesadaran dari kami-kami anggota ASPPI yang haus akan   pengetahuan tentang dunia firtual yang selama ini hanya sebatas browsing di internet, mailing list, chatting dan e-mail. Hanya satu dua dari kami yang mengerti tentang blog.

Lagi-lagi, karena menariknya pelatihan ini, bahkan salah-satu teman ingin datang ke pelatihan Sesi 2 hari berikutnya karena masih kurang puas. Padahal sebenarnya  sudah terisi penuh oleh pendaftar dadakan dari anggota ASPPI yang lain. “ Tak apa kami Cuma ingin ikut mendengarkan saja. Tak perlu fasilitas segala macam “ ungkap sodara Marzuki dari Smile Tour. Akhirnya, atas kebaikan penyelenggara pelatihan , diizinkanlah 4 orang mengikuti kembali si sesi 2 dengan syarat fasilitas pelatihan menjadi prioritas peserta yang belum mengikuti pelatihan.

 

Beruntung juga teman-teman kami di kawasan Sumatra yang diberitahukan lebih awal untuk pelatihan yang sama 25 – 27 November 2008. Sangat fantastis. Seluruh quota sebanyak 25 peserta tersedot habis dalam 2 hari. Padahal pelatihan yang akan diselenggarakan di Bukittinggi ini, justru dihadiri dari berbagai kota di Sumatra dengan antusias. Sodari Nila berani meninggalkan kesibukannya di Jambi dan harus menempuh 12 jam perjalanan darat. Sekelompok kawan-kawan dari Pekanbaru mungkin paling tidak berangkat kengendarai 2 Kijang Innova penuh sesak selama 4 jam perjalanan. Entah sodara Willy dan kawan-kawan dari Medan apakah harus menempuh jalan darat atau udara karena jalur Medan – Padang relative tidak lancar selama ini. Peserta terjauh adalah dari Batam. Beda pulau, beda provinsi, salut atas semangat sodara kita yang satu ini. Kemungkinan sodara Dedi dari Batam harus menuju Singapore untuk terbang ke Padang.

 

Benar-benar pelatihan yang bagus dan ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Inilah keberuntungan yang datang tepat pada waktunya.

 

ASPPI, blog sana blog sini blog anywhere !!

 

Kampung Baduy

Tuesday, November 18th, 2008
Suatu sore di kampung Leuwi Buleud

Suatu sore di kampung Leuwi Buleud ( foto by : Romy R. Mahmud )

Program wisata yang satu ini sangat menarik para pecinta wisata yang sedikit berpetualang untuk mengungkap rahasia sebuah perkampungan masyarakat Baduy. Rasa penasaran para perserta wisata sangat tinggi untuk melihat sebuah perkampungan yang damai, asri, dimana mereka mendiami rumah-rumah bambu beratap rumbia yang dibangun di lembah bukit dan berbatasan dengan sungai Ciujung yang jernih mengalir menerpa bebatuan alam. Sungguh perpaduan keserasian alam yang memberikan kesejukan dan kedamaian baik bagi masyarakat Baduy maupun para wisatawan yang berkunjung ke sana.

Setelah berkendara 4 jam atau sekitar 140 km dari Jakarta tepatnya di kabupaten Lebak, Banten. Jalan toll Merak yang mulus membawa kami dapat menikmati sepanjang perjalanan. Suasana perjalanan semakin menarik setelah keluar toll Merak menuju Lebak. Sepanjang perjalanan akan disajikan panorama sawah, sungai, ladang dan perkampungan. Tibalah di kampung Ciboleger yang berbatasan langsung dengan perkampungan Baduy. Di sinilah tempat terdekat yang bisa di akses dengan kendaraan untuk memasuki perkampungan Baduy.

Meskipun perkampungan masyarakat berada tidak terlalu jauh dari Jakarta sebagai ibukota yang bisa menjadi ukuran kehidupan paling modern ditanah air, namun masyarakat Baduy masih memiliki adat istiadat yang kuat mempertahankan tradisi hidup sederhana tanpa harus mengikuti dan menggunakan perlengkapan modern seperti kendaraan bermotor, televisi, radio dan sekolah. Bahkan untuk masyarakat Baduy dalam yang mendiami kampung Cibeo, Cikertawarna dan Cikeusik sama-sekali berpantangan menaiki kendaraan bermotor bila bepergian jauh sekalipun. Suatu hal yang biasa bila bepergian jauh seperti ke Jakarta mereka berjalan kaki selama 3 hari.