Archive for December, 2008

Sembarang JOGJA

Monday, December 22nd, 2008
Riyanto - ASPPI Jogja )
Prambanan ( photo : Riyanto - ASPPI Jogja )

Siapa sih yang gak kenal JOGJA ? Sebuah kota budaya, kota pelajar, kota gudeg, kota wisata, kota Batik dan bahkan di era 1990an Jogja mendapatkan julukan tempat berkumpulnya para kebo dan hampir pupuler dengan istilah kota “Kumpul Kebo”.  Istilah terakhir mungkin saja sebuah ekses negatif yang pernah mencuat atas perkembangan kota tersebut. Beruntung istilah itu  mengisi headlines berita nasional hanya beberapa minggu meskipun sempat meresahkan kalangan para orang tua yang anak-anaknya sedang menuntut ilmu di kota ini.

Nama JOGJA yang betul apa sih ?

Kalau saya lebih menyukai menamai kota tersebut JOGJA, tapi ada juga beberapa untuk menunjukan kota yang samadengan menulis Yogja,  Yogya dan  Yogkakarta. Apapun dan bagaimanapun cara ucap dan penulisannya, ternyata semua mengarah pada satu tempat yang sama, JOGJA. Sebuah tempat mempesona dengan kehidupan masyarakat berkultur Jawa aristokrat, keramah-tamahan, Budaya yang kuat, Batik yang halus, makanan dan losmen yang murah dan berkualitas serta banyak hal-hal lain yang menarik.

Klik sana, klik sini iseng di mesin pencarian google. Tanpa referensi dari kamus Besar bahasa Indonesia apalagi dengan mengikuti kaidah metodologi penelitian, ternyata saya menemukan parameter ngawur istilah nama yang paling banyak diakses adalah sebagai berikut :

JOGJA = ditemukan 8,650,000 halaman. Inilah nama yang saya sering ucap dan tuliskan

DJOGDJA = ditemukan 43,200 halaman

Yogja = ditemukan 61,900 halaman

Yogya = ditemukan 3,660,000 halaman

Yogyakarta = ditemukan 19,600,000 halaman. Indikasi yang layak dipercaya inilah mungkin nama yang sebenarnya untuk kota ini.

Jogjakarta = 2,740,000

Hasilnya cukup menarik atas perbedaan seperti dugaan sebelumnya. Masyarakat luas memberi nama dengan istilah yang enak dan mudah baik untuk menulis maupun mengucapkan. Lebih menariknya lagi, istilah kata Yogyakarta yang menjadi urutan pertama lebih banyak ditemukan di tulisan-tulisan resmi badan pemerintah, media masa, lembaga pendidikan. Sedangkan kata JOGJA lebih banyak ditemukan dalam tulisan-tulisan yang tidak formal, majalah hiburan, bahkan setelah diamati, ternyata kata JOGJA lebih banyak diucapkan oleh kalangan orang luar yang bukan warga kota tersebut. Unik, dengan penulisan dan pengucapan yang berbeda tapi tujuannya sama JOGJA menurut saya yang juga bukan orang JOGJA.

Ada pa sih di JOGJA ? dan berapa indikasi secara kuantitativ di mesin mencarian. lagi-lagi kecanduan Google :

Prambanan = Ditemukan 838,000 halaman. Inilah yang diklaim candi tercantik menjadi andalan pariwisata JOGJA secara resmi versi pemerintah. 

Keraton = ditemukan 1,250,000 halaman. Maklum, ini simbol Aritokrat Jawa yang berada dipusat kota dan boleh dikunjungi wisatawan. Bayarnya murah menjakaunya pun mudah.

Borobudur = Ditemukan 1,840,000 halaman. JOGJA sangat diuntungkan oleh jarak yang lebih dekat daripada harus menempuh dari Semarang untuk mengunjungi candi Budha terbesar di dunia ini. Membuktikan kekuasaan teritorial Jawa Tengah hampir tidak berarti dilihat dari pendapatan daerah atas keberadaan candi di wilayahnya.  Sama dengan keberadaan gunung Krakatau milik Lampung yang banyak dijual dari Jakarta dan Banten. Itu namanya keberuntungan. Tapi juga ada destinasi yang dikunjungi banyak orang, menghasilkan banyak devisa tapi tidak menggantungkan keberuntungan. Contoh, orang yang tidak suka nonton Balapan F1 dan MotoGP pun ke Sepang berpanas-panas dan hanya betah di tempat penjualan souvenir menghindari bisingnya balapan jet darat. Mulai hari Sabtu ini menurut teman saya juga yang tertarik magnet Singapore sudah jadi kampung Indonesia, setidaknya dialek Betawi ditemukan di MRT, tempat-tempat makan, tempat-tempat wisata. Jangan tanya di Orchard Road yang katanya sudah seperti pasar senggol mentok sana - mentok sini. “Lebih susah cari orang singapore nya daripada cari orang Indonesia” celotehnya sambil berlama-lama ngobrol sana-sini menggunakan fasilitas roaming international. Beruntung saya, punya teman banyak duit dan menjajikan oleh-oleh . Secara lokasi sebenarnya tidak terlalu beruntung untuk orang-orang dari pulau Jawa karena dibatasi regulasi bayar fiskal untuk menuju ke Singapore. Tapi kenapa magnetnya begitu kuat ? Terbukti lokasi yang dekat hanya keberuntungan yang belum tentu mendatangkan untung. Kurang apa plaza dan mall di Jakarta dan Bandung. Makan enak di Jakarta ?, Bandung ?, Jogja ?, Surabaya ?, Bali ? Asal kuat isi dompet saja sampe usia pensiun mungkin belum kecicip semua.

Apalagi sih yang menarik di JOGJA ? tanya lagi mesin yang dianggap sakti sampai saat ini. Lagi-lagi Google :

Malioboro = ditemukan 666,000 . Angka mencengangkan. Triple 6 sebuah angka mistis seperti mitologi antara hubungan laut selatan, Keraton, tugu, dan gunung Merapi yang berada sejajar dari arah utara ke selatan. Percaya tidak percaya silahkan. Tetapi cerita ini sangat enak dan menarik untuk bahan pemanduan. Salah-salah dikit itu kan bisa dianggap versi, namanya juga mitos.

Mendalami lagi ada apa dan mau apa  di Malioboro ?

Mari tanya google :

Beringharjo = 45,600 halaman

Lesehan = 230,000 halaman

Pasar Kembang = 432,000 halaman

Waduh, ini gimana sih mesin Google. Saya tidak setuju dengan hasil mesin pencarian ini. Ngawur. Mana mungkin dari 666,000 halaman dua pertiga nya menunjukan ke arah Pasar Kembang, sementara yang lesehan hanya sepertiganya. Padahal tidak banyak yang mempromosikan asar Kembang sebagai tujuan wisata. Kasihan pasar Beringharjo yang hanya menempati urutan bontot. Mungkin karena pasar ini sudah kurang nyaman ? keamanan ? Pelayanan ? atau tidak tahu ada pasar di situ ?

Apapun pengucapan dan tulisannya, saya akan kembali liburan ke JOGJA…!!!

Bukan BABEL, tapi Bangka - Belitung

Wednesday, December 17th, 2008

Apaan sih BABEL ?  Masih banyak orang tidak mengenal istilah BABEL. Berbagai pengertian akan muncul tentang arti BABEL bagi orang awam. Mungkin saja ada yang mengertikan suatu nama barang, benda, makanan atau tempat tetapi ragu dimana keberadaan tempat tersebut. Tidak percaya ” coba tulis besar-besar di kertas dan survey ke anak-anak setingkat SMP bahkan SMA. Sebagian besar sebelum menjawab mengerutkan kening atas ketidaktahuannya itu. Hanya sebagian kecil baru bisa menjawab bahwa BABEL adalah singkatan dari sebuah provinsi baru pecahan dari Sumatra Selatan.

www.indonesia-tourism.com )

Peta bangka - Belitung ( source : www.indonesia-tourism.com )

Inilah kesalahan kecil yang bisa menjadi kerugian lebih besar akan hobby aparat pemerintah dengan  singkat menyingkat nama provinsi atau suatu tempat. Bayangkan nasibnya BABEL dengan nama provinsi yang tidak begitu terkenal kemudian namanya disingkat-singkat pula. Dapat diyakini akan makin tenggelam namanya di benak masyarakat Indonesia apalagi mancanegara.  Jadi teringat akan pelajaran SD dulu kita diuji kecakapan menghapal singkatan lembaga pemerintahan dan nama-nama menteri. Kini pelajaran seperti itu tidak lagi diajarkan di sekolah. Diyakini pemerintah provinsi BANGKA - BELITUNG harus kerja keras memperkenalkan istilah nama singkatan BABEL sebagai nama provinsi. Sebaiknya, Sebelum terlanjur jauh,  kenapa tidak kembali ke nama yang sebenarnya yaitu BANGKA - BELITUNG.

BABEL, kenapa bukan BANGKA - BELITUNG ? Meskipun mengucapkannya lebih panjang tetapi masyarakat langsung mengerti bahwa yang dimaksud adalah nama tempat, pulau, meskipun sedikit kesulitan menjelaskan dimana lokasi persisnya tanpa bantuan peta. Inilah pekerjaan rumah yang berat bila masih harus memperkenalkan BABEL sebagai nama provinsi seperti sekarang. Pengalaman, belum semua staff ticketing di Biro Perjalanan Wisata mengerti betul bahwa kota Pangkalpinang itu kota di Bangka karena sering tertukar dengan kota Tanjungpinang sebagai ibukota provinsi Kepulauan Riau yang  berada di pulau Bintan, Sementara Tanjung Pandan itu kota di pulau Belitung.

Ini contoh kasusnyata cerita seorang kawan dari Belitung, Agus Pahlevi dari Levi Tour. Dia mendapat pemesanan tour  dari seorang tamu di Jakarta yang tertarik ke Belitung. Tamu tersebut hanya memerlukan paket tour selama di Belitung saja. Sedangkat tiket pesawat pergi dan pulang akan di urus sendiri di Jakarta. Pada hari yang dijanjikan, kawan saya Agus menjemput di bandara Hanandjoeddin Belitung yang tidak terlalu besar itu. Kawan kita pun kebingungan karena tunggu-punya tunggu tamu yang ditunggu tidak menampakkan dirinya sampai semua penumpang keluar dan mengambil barang. Tiba-tiba tamu yang ditunggu-tunggu menelepon lewat handphone dan kebingungan tidak ada yang menjemput. Telisik punya telisik, ternyata tamu tersebut membeli tiketnya salah tujuan yaitu ke Pangkalpinang pulau Bangka. ” Kiamat sudah “  Agus menceritakan pengalaman tersubut sewaktu berkunjung ke Jakarta minggu lalu. Tamu yang ditunggu mendarat di kota Pangkalpinang pulau Bangka. Sedangkan dari Bangka ke Ke Belitung tidak ada penerbangan. Kesimpulannya, bila tamu menginginkan terbang menuju Belitung dari Bangka, satu-satunya jalan adalah kembali lagi ke Jakarta dan membeli tiket baru ke Tanjung Pandan pulau Belitung. Pilihan lain dari bangka ke Belitung adalah perjalanan kapal cepat semala 4 sampai 5 jam mengarungi selat Gaspar yang berombak cukup tinggi karena menghadap laut Cina Selatan . Itupun hanya ada satu kali pelayaran setiap harinya.

Satu Pelajaran dari istilah BABEL

 Kurang dimengerti apakah menggunakan singkatan BABEL tersebut menjadi program pemerintah daerah setempat untuk menciptakan image baru secara politis sebagai pemersatu kepulauan dalam sebuah provinsi, atau karena hanya lebih pendek pengucapannya tanpa pengkajian dampak ke depan akan semakin sulitnya masyarakat luar Bangka - Belitung mengenal lebih dekat dan akhirnya mengetahui keindahan-keindahan yang terdapat di sana.

Justru solusi yang arif dan baik untuk Bangka - Belitung, maupun masyarakat luar Bangka - Belitung untuk tetap menyandang nama provinsi itu tanpa disingkat-singkat. karena sejak awal, masyarakat bahkan sejak jaman kerajaan Sriwijaya dan kerajaan melayu maupun era kolonial tempat itu sudah dikenal dengan nama Pulau Bangka dan Pulau Belitung.  Sangat tidak diduga, ternyata dengan kecanggihan teknologi masa kini, yaitu internet, mesin pencarian terkemuka GOOGLE sangat miskin menemukan kata  BABEL dalam artian BANGKA atau BELITUNG. Jauh bertolak belakang apabila kita membubuhkan kata pencarian BANGKA atau BELITUNG, maka data yang dimaksud begitu tepat dan terdapat banyak sekali informasi Bangka - Belitung.

Pembenahan rupanya perlu diawali sebelum semuanya berlarut-larut terlalu lama. Karena makin lama kembali ke nama lengkap tanpa singkatan, akan semakin lama pula memperkenalkan keindahan bangka - Belitung ke masyarakat luas yang ingin berwisata ke sana. Mulailah meluruskan pengetahunan masyarakat luar Bangka - Belitung agar benar-benar mengetahui tanpa salah pemahaman bahwa :

Kota Pangkalpinang = Pulau Bangka ( Ibukota Provinsi Bangka - Belitung )

Kota Tanjung Pandan = Pulau Belitung ( Kota terbesar , bandara, pelabuhan )

Kota Tanjung Pinang = Pulau Bintan dekat pulau Batam ( ibukota Kepulaun Riau ).

Belum lagi masih ada tugas lain untuk mengedukasi masyarakat diantara 3 nama provinsi yang mirip dan membingungkan :

1. Provinsi Riau = Ibukotanya Pekanbaru ( dominan daratan di pulau Sumatra )

2. Provinsi Bangka - Belitung = Ibukotanya di Pangkalpinang pulau Bangka.

3. Provinsi Kepulauan Riau = Ibukotanya di Tanjung Pinang pulau Bintan dekat pulau Batam.

Pertanyaan selanjutnya, siapkan pemerintah provinsi Bangka - Belitung untuk mengkaji kembali untuk tidak terbiasa menggunakan singkatan BABEL yang kadang membingungkan dan menambah kosa kata aneh baik dalam benak masyarakat, kamus besar bahasa Indonesia maupun mesin pencarian di internet seperti Google dan Yahoo . Bukankan lebih baik mengurai kesalahan lama daripada menciptakan kebenaran baru yang belum tentu akan menjadi benar yang sesungguhnya.

Belitung : Surga fotografer yang hampir terlupakan

Saturday, December 13th, 2008
Momod ASPPI)

Pulau Lengkuas (foto: Momod ASPPI)

Apapun jenis kamera Anda. Bahkan kamera pocket yang beresolusi rendah dan murahan sekalipun tetap akan menghasilkan foto yang indah di Belitung. Inilah salah satu sisi surga kecil yang hampir terlupakan diantara 17,000 lebih pulau di negeri ini.

Momod ASPPI Jul'08)

ideal untuk honeymoon (foto: Momod ASPPI Jul

“Sejatinya kalau memang sudah cantik dibidik dari sisi manapun akan tetap cantik “ dalam hati saya memuja keindahan gugusan kepulauan Belitung. Beruntung orang Belitung sudah menikmati indahnya surga kecil sekian lama. Sayang sekali kecantikan ini hanya baru dinikmati segelintir orang yang pernah menjiarahi surga kecil ini. Padahal untuk menuju ke sana hanya diperlukan waktu terbang sekitar 45 menit dengan harga tiket pesawat yang sangat terjangkau. Bahkan harga tiket relatif tidak fluktuatif di musim liburan akhir tahun seperti bulan Desember ini. Padanannya kira-kira, satu tiket pulang pergi Jakarta - Denpasar - Jakarta, sudah bisa untuk terbang 2 orang Jakarta - Belitung - Jakarta. Murah bukan ?

Lawang Sewu : Menyibak Misteri lorong Uji Nyali

Wednesday, December 3rd, 2008

Lawang Sewu, gedung yang indah namun kumal tak terpelihara, kokoh namun menyisakan kekejaman PD II. Milik Negara bernilai tinggi di pusat kota namun menjadi incaran banyak kepentingan.

 

Kini yang ada hanya kesia-siaan…!!

 

Nining ASPPI 29 Okt 2008 )

Lawang Sewu Semarang ( foto : Nining ASPPI 29 Okt 2008 )

 
Rombongan ASPPI gokil abis, meskipun 3 malam kurang tidur tetapi masih tetap semangat. Sama sekali tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengetahui lebih jelas tentang Semarang sampai ke tempat angker  bawah tanah sekalipun. Rasa penasaran belum puas kalo belum liat langsung tempat tayangan Uji Nyali yang pernah popular di salah satu televisi di Jakarta. Inilah salah satu tayangan paling diminati pemirsa yang dibawakan Harry Panca.
 
 
 
 

 

Begitu bus kami merapat ke lingkar Tugu Muda, sangat jelas sekali gedung Lawang Sewu ini beda dengan bangunan sekitarnya. Lawang Sewu yang artinya gedung yang pintunya sangat banyak. Inilah nama yang diberikan masyarakat Semarang agar mudah menyebutkan gedung milik perusahaan Kerata Api tersebut dari dulu hingga sekarang.  Pintu yang lebar dan tinggi, ditambah jendela yang sangat banyak selolah-olah menyerupai pintu, memang gedung ini tampak begitu banyak selali pintu yang menghubungkan dari satu ruangan ke ruangan lainnya.

 

Nining ASPPI)

kaca patri (foto: Nining ASPPI)

 

 

 

 

 

 

“ Kita harus ke lorong bawah tanah Lawang Sewu. Penasaran gue kalo gak kesana. Mumpung lagi di Semarang” celoteh Nining yang sudah merencanakan jauh-jauh hari pulang dengan pesawat sore karena ingin keliling kota Semarang terlebih dahulu. Bahkan dari sekitar 17 orang peserta post tour Borobudur Trevel mart 29 Oktober 2008 di Semarang sepakat menjadikan kunjungan wajib ke gedung tua bekas milik Nederlandsch Indiche Spoorweg atau perusahaan Kereta Api jaman colonial Belanda. Barangkali arsitektur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sendiri Profesor Klinkkaner dan Quendaag saat membangun gedung ini sejak 1903 - 1907 tidak menyadari akan menjadi salah satu landmark kota Semarang saat ini. Justru gedung ini dibangun dengan ukuran besar dan megah karena perkembangan perkerataapian di Indonesia sedang tumbuh menjadi perusahaan transportasi darat yang penting, modern, menguntungkan dan prestisius. Pertumbuhan hasil bumi yang melimpah dari seluruh penjuru pulau Jawa. Hasil perkebunan Karet, Kopi, Gula Tebu menuntut angkutan missal yang memadai. Sementara jalan Groot Posweg Anyer  Panarukanyang dibangun oleh Gubernur Jendral H. W. Daendels berkuasa sejak 1808 – 1811 sepanjang lebih kurang 1000 kilometer masih tidak dapat memenuhi kebutuhan para pengusaha perkebukan yang menyebar seluruh pelosok Jawa.

Ibu Cenik koordinator  pemandu Lawang Sewu yang juga putri dari Kuncen Lawang Sewu Mbah Ratno menyambut kami dengan hangat. Suasana lembah, tua, dan cat-cat putih di dinding yang sudah mulai memudar semakin  mengesankan sebuah gedung yang penuh misteri.  Eksplorasi misteri pun dimulai dari lobby,  ruang kerja, menara bahkan sampai akhirnya menuju lorong bawah tanah.

Nining ASPPI)

gedung belakang (foto: Nining ASPPI)

 Petualangan baru dimulai. Tak di sangka gedung yang begitu indah dengan cirri-ciri pintu dan jendela yang banyak, ternyata menyisakan cerita mistis. Mungkin karena sejak dibangun hingga sekarang, gedung ini mengalami beberapa alih fungsi. Pada masa sebelum perang dunia II gedung ini begitu kental sebagai ikon bisnis transportasi yang sangat dinamis. Pada saat memasuki PD II, akhirnya Jepang pun menggantikan Belanda memanpaatkan sebagai markas militer. Begitu banyak cerita nestapa para tahanan di sini.

 

 

Lorong bawah tanah yang menyeramkan ini mengelilingi selebar gedung utama. Suasana lembab, gelap dan genangan air membuat setiap pengunjung harus mengenakan sepatu boat karet untuk menyusurinya. Pada awal penciptaannya, lorong tersebut difungsikan sebagai pusat penampungan air apabila terjadi ancaman banjir karena kota Semarang sendiri memang daerah rawan banjir. Namun, pada masa pergolakan PD II baik Belanda maupun Jepang memanfaatkannya sebagai penjara, bungker, gudang amunisi dan jalan rahasia untuk keluar masuk kawasan gedung termasuk mengintrogasi musuh dan mata-mata menggunakan kekerasan. Begitu banyak ruang-ruang yang dijadikan penjara di sini. Tampak jelas penjara yang sangat sempit konon dulu dihuni oleh banyak tahanan sehingga mereka nyaris tidak dapat duduk karena terlalu padat di isi sangat banyak tahanan. Belum lagi penjara jongkok yang diisi air sementara tahanan hanya bisa menongolkan kepalanya saja karena ditatasnya ditutup jeruji besi.

Korban tahanan dari lorong bawah tanah banyak sekali berguguran. Baik dikarenakan penyiksaan, penyakit maupun kelaparan.  Para korban tahanan tersebut secara rahasia dibuang ke kanal samping gedung yang mengalir ke sungai yang lebih lebar. Hampir semua warga semarang tidak menyadari bahwa mayat-mayat tersebut dari buangan tahanan lawang sewu.

“ Di sini dulu digunakan sebagai siaran langsung tempat Uji Nyali yang terkenal itu “ kata bu Cenik sambil menunjukkan jarinya kea rah lorong yang akan kami lewati.

“ihhh serem…” salah satu peserta wisata bawah tanah penimpalinya sambil merapat ke tengah-tengah rombongan.

Penjara Bawah Tanah Cut Nyak Dhien, Dimana ?

Monday, December 1st, 2008

Tetap berjuang meskipun sudah tua dan sakitKesan pertama melihat penjara bawah tanah yang  pernah dihuni Cut Nyak Dhien sama sekali tidak percaya. Bunker yang sangat lembab, gelap, becek, bau busuk, sempit dan setinggi hanya kurang lebih 130 centimeter membuat siapapun tidak bisa berdiri tegak di penjara itu. Berminggu-minggu, berbulan-bulan. Makan, tidur, bahkan buang hajat sekalipun tetap di tempat yang sama.

Sangat berbeda 180 derajat bila melihat mewahnya Stad Huis atau Gouvernourskantoor yang dibangun 1710 ini dengan keadaan penjara bawah tanahnya. Jelas sekali gedung tersebut tidak hanya untuk pusat pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia, tetapi juga diantisipasi jauh sampai hal-hal persiapan penjara super ketat terhadap pemberontak.  Makan  serangga atau binatang tikus liar adalah santapan mewah karena pemerintah kolonial Belanda kadang memberi makan hanya beberapa  kali seminggu. Sudah bisa dipastikan  bila menghuni penjara ini sulit membedakan waktu siang dan malam karena  letaknya  dibawah penjara bawah tanah masal di Museum Sejarah Jakarta.  Penjara ini memang dibuat khusus untuk tahanan kelas berat pemimpin pembrontak penjajahan sekelas Cut Nyak Dhien.

Dibawah Museum Sejarah JKT Cut Nyak Dhien pernah dipenjara

Dibawah Museum Sejarah JKT Cut Nyak Dhien pernah dipenjara

 Cut Nyak Dhien turun berjuang keluar masuk hutan setelah suaminya Ibrahim Lamnga gugur melawan Belanda tahun 1878. Perjuangan Cut nya Dhien sangat disemangati oleh pemimpin pembrotak Teuku Umar melawan Belanda. Pada tahun 1880 akhirnya Teuku Umar mempersunting Cut Nyak Dhien sebagai istrinya. Mereka berdua bersama-sama melakukan perlawanan terhadap belanda di Aceh.

Teuku Umar pun gugur melawan Belanda di Meulaboh pada tahun 1899. Untuk kedua kalinya Cut Nyak Dhien ditinggal suami karena perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Jiwa perjuangan Cut Nyak Dhien makin membara dan tetap memimpin pembrontakan meskipun dalam keadaan sakit rheumatik dan rabun.

 Setelah pengasingannya ke Batavia atau yang sekarang lebih dikenal dengan Museum Fatahillah, kemudian diasingkan ke Sumedang Jawa barat hingga  meninggal dunia pada tanggal 6 November 1908. .