Archive for April, 2009

Dayak Setulang ; Penghuni Sorga yang tersembunyi ( 1/2 )

Saturday, April 4th, 2009

Memanen Padi, pengalaman yang sangat langka bagi wisatawan ( by Ardi Sayuti )

Memanen Padi, pengalaman yang sangat langka bagi wisatawan ( by Ardi Sayuti )

 

Ardi Sayuti )

Sungai dan hutan di suatu pagi, menyajikan keserasian alam di Setulang ( by : Ardi Sayuti )

Perkampungan Setulang terletak di kabupaten Malinau ,Kalimantan Timur . Mereka mendiami satu sudut sorga kecil yang tersembunyi di Tanah Leluhurnya. Hidup damai bersama alam yang asri. Dimana riak air sungai yang jernih memberikan kesejukan, hutan alami memberikan kemakmuran hidup tanpa rasa takut kelaparan. Nyanyian burung hutan adalah lagu merdu membawa suasana hati penuh kedamaian

Perjalanan menuju Perkampungan Setulang sangatlah mudah ,dimulai dari Balikpapan airport menuju Tarakan dan dilanjutkan dengan perjalanan sungai menggunakan speedboat menuju Malinau dan diteruskan dengan kendaraan Mobil selama 1 jam. Ini adalah perkampungan Dayak yang ber migrasi di tahun 1968 – 1975  dari pedalaman ,tepatnya daerah sungai Saan,dekat Kayan Mentarang. Alasan ber migrasi karena sulitnya mencari kebutuhan pokok termasuk obat-obatan dan pendidikan.Kelompok ini termasuk dalam Komunitas Dayak Kenyah Oma’ Lung .Mereka terbiasa mempertahankan Tanah Adat (Tana Olen) agar selalu mendapatkan air bersih ,Berburu binatang , Ikan dan berladang tempat yang sudah ditentukan secara tradisional agar dapat menjaga kelestarian hutan.

 

 

Hari  pertama : Balikpapan – Tarakan – Malinau

Dimulai dari Balikpapan menuju Tarakan dengan waktu perjalanan satu jam.Tiba di bandara Juata Tarakan, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan speed boat yang bisa mengangkut 20  orang dari pelabuhan Tengkayu menuju pelabuhan Malinau. Terasa sekali aroma petualangan sudah dimulai sejak dari sini. Selama tiga jam dengan speedboat sungguh-sungguh sangat disayangkan untuk di sia-siakan. Semakin jauh mengarungi sungai ke hulu, semakin menarik untuk dinikmati.

 

Kali ini juga saya dapat melihat Bekantan (Nasalis larvatus) bermain di pohon bakau dalam kelombok lumayan banyak dari jarak cukup dekat. Bila beruntung dapat pula melihat beberapa ekor Pesut (Irrawadi dolphin) berenang di alur sungai yang tenang.  Tiba di pelabuhan Malinau, dapat langsung menuju hotel atau dapat langsung menuju perkampugan Setulang

 

Hari kedua : Malinau – Pulau Sapi – Setulang

Tiba di perkampungan Setulang, dapat langsung menuju ke homestay-homestay yang telah disediakan oleh pengelola asli Dayak Setulang dengan sambutan hangat serasa menyambut sodara yang dirindu-rindukan datang. Begitu terasa suasana rumah keluarga Dayak yang hangat dan bisa langsung menjadi bagian dari keluarga mereka. Pengalaman yang tak terlupakan. Di sinipun, dapat dinikmati keindahan arsitektur balai adat Adjang Lideng, lumbung-lumbung padi yang ada di puncak bukit, ukiran kayu pada setiap pintu gerbang, perahu panjang, kuburan masyarakat dayak Kenyah Uma’ Lung yang terletak di seberang desa. Beragam tari-tarian tradisional juga dapat dinikmati, seperti tari tunggal, tari perang dengan diiringi musik tradisional sampeq, alat pukul dari kayu kering.

Kehidupan desa yang tenang dan asri sangat menambah rasa nyaman. Tak jarang dapat pula dijumpai warga desa yang sedang menjemur padi atau kopi di depan rumah, warga yang akan dan pulang berburu di hutan, pengrajin rotan untuk dibuat berbagai barang seperti anjat, tikar; pengrajin Mandau (senjata khas dayak) dan juga pembuat seraung (topi khas dayak). Menikmati suasana malam di desa ini juga tak kalah mengasyikkan. Pengunjung dapat berdiskusi dengan masyarakat tentang sejarah, kehidupan sehari-hari, budaya bersama dengan warga desa.

 ( bersambung )