Posts Tagged ‘bangka’

Bukan BABEL, tapi Bangka - Belitung

Wednesday, December 17th, 2008

Apaan sih BABEL ?  Masih banyak orang tidak mengenal istilah BABEL. Berbagai pengertian akan muncul tentang arti BABEL bagi orang awam. Mungkin saja ada yang mengertikan suatu nama barang, benda, makanan atau tempat tetapi ragu dimana keberadaan tempat tersebut. Tidak percaya ” coba tulis besar-besar di kertas dan survey ke anak-anak setingkat SMP bahkan SMA. Sebagian besar sebelum menjawab mengerutkan kening atas ketidaktahuannya itu. Hanya sebagian kecil baru bisa menjawab bahwa BABEL adalah singkatan dari sebuah provinsi baru pecahan dari Sumatra Selatan.

www.indonesia-tourism.com )

Peta bangka - Belitung ( source : www.indonesia-tourism.com )

Inilah kesalahan kecil yang bisa menjadi kerugian lebih besar akan hobby aparat pemerintah dengan  singkat menyingkat nama provinsi atau suatu tempat. Bayangkan nasibnya BABEL dengan nama provinsi yang tidak begitu terkenal kemudian namanya disingkat-singkat pula. Dapat diyakini akan makin tenggelam namanya di benak masyarakat Indonesia apalagi mancanegara.  Jadi teringat akan pelajaran SD dulu kita diuji kecakapan menghapal singkatan lembaga pemerintahan dan nama-nama menteri. Kini pelajaran seperti itu tidak lagi diajarkan di sekolah. Diyakini pemerintah provinsi BANGKA - BELITUNG harus kerja keras memperkenalkan istilah nama singkatan BABEL sebagai nama provinsi. Sebaiknya, Sebelum terlanjur jauh,  kenapa tidak kembali ke nama yang sebenarnya yaitu BANGKA - BELITUNG.

BABEL, kenapa bukan BANGKA - BELITUNG ? Meskipun mengucapkannya lebih panjang tetapi masyarakat langsung mengerti bahwa yang dimaksud adalah nama tempat, pulau, meskipun sedikit kesulitan menjelaskan dimana lokasi persisnya tanpa bantuan peta. Inilah pekerjaan rumah yang berat bila masih harus memperkenalkan BABEL sebagai nama provinsi seperti sekarang. Pengalaman, belum semua staff ticketing di Biro Perjalanan Wisata mengerti betul bahwa kota Pangkalpinang itu kota di Bangka karena sering tertukar dengan kota Tanjungpinang sebagai ibukota provinsi Kepulauan Riau yang  berada di pulau Bintan, Sementara Tanjung Pandan itu kota di pulau Belitung.

Ini contoh kasusnyata cerita seorang kawan dari Belitung, Agus Pahlevi dari Levi Tour. Dia mendapat pemesanan tour  dari seorang tamu di Jakarta yang tertarik ke Belitung. Tamu tersebut hanya memerlukan paket tour selama di Belitung saja. Sedangkat tiket pesawat pergi dan pulang akan di urus sendiri di Jakarta. Pada hari yang dijanjikan, kawan saya Agus menjemput di bandara Hanandjoeddin Belitung yang tidak terlalu besar itu. Kawan kita pun kebingungan karena tunggu-punya tunggu tamu yang ditunggu tidak menampakkan dirinya sampai semua penumpang keluar dan mengambil barang. Tiba-tiba tamu yang ditunggu-tunggu menelepon lewat handphone dan kebingungan tidak ada yang menjemput. Telisik punya telisik, ternyata tamu tersebut membeli tiketnya salah tujuan yaitu ke Pangkalpinang pulau Bangka. ” Kiamat sudah “  Agus menceritakan pengalaman tersubut sewaktu berkunjung ke Jakarta minggu lalu. Tamu yang ditunggu mendarat di kota Pangkalpinang pulau Bangka. Sedangkan dari Bangka ke Ke Belitung tidak ada penerbangan. Kesimpulannya, bila tamu menginginkan terbang menuju Belitung dari Bangka, satu-satunya jalan adalah kembali lagi ke Jakarta dan membeli tiket baru ke Tanjung Pandan pulau Belitung. Pilihan lain dari bangka ke Belitung adalah perjalanan kapal cepat semala 4 sampai 5 jam mengarungi selat Gaspar yang berombak cukup tinggi karena menghadap laut Cina Selatan . Itupun hanya ada satu kali pelayaran setiap harinya.

Satu Pelajaran dari istilah BABEL

 Kurang dimengerti apakah menggunakan singkatan BABEL tersebut menjadi program pemerintah daerah setempat untuk menciptakan image baru secara politis sebagai pemersatu kepulauan dalam sebuah provinsi, atau karena hanya lebih pendek pengucapannya tanpa pengkajian dampak ke depan akan semakin sulitnya masyarakat luar Bangka - Belitung mengenal lebih dekat dan akhirnya mengetahui keindahan-keindahan yang terdapat di sana.

Justru solusi yang arif dan baik untuk Bangka - Belitung, maupun masyarakat luar Bangka - Belitung untuk tetap menyandang nama provinsi itu tanpa disingkat-singkat. karena sejak awal, masyarakat bahkan sejak jaman kerajaan Sriwijaya dan kerajaan melayu maupun era kolonial tempat itu sudah dikenal dengan nama Pulau Bangka dan Pulau Belitung.  Sangat tidak diduga, ternyata dengan kecanggihan teknologi masa kini, yaitu internet, mesin pencarian terkemuka GOOGLE sangat miskin menemukan kata  BABEL dalam artian BANGKA atau BELITUNG. Jauh bertolak belakang apabila kita membubuhkan kata pencarian BANGKA atau BELITUNG, maka data yang dimaksud begitu tepat dan terdapat banyak sekali informasi Bangka - Belitung.

Pembenahan rupanya perlu diawali sebelum semuanya berlarut-larut terlalu lama. Karena makin lama kembali ke nama lengkap tanpa singkatan, akan semakin lama pula memperkenalkan keindahan bangka - Belitung ke masyarakat luas yang ingin berwisata ke sana. Mulailah meluruskan pengetahunan masyarakat luar Bangka - Belitung agar benar-benar mengetahui tanpa salah pemahaman bahwa :

Kota Pangkalpinang = Pulau Bangka ( Ibukota Provinsi Bangka - Belitung )

Kota Tanjung Pandan = Pulau Belitung ( Kota terbesar , bandara, pelabuhan )

Kota Tanjung Pinang = Pulau Bintan dekat pulau Batam ( ibukota Kepulaun Riau ).

Belum lagi masih ada tugas lain untuk mengedukasi masyarakat diantara 3 nama provinsi yang mirip dan membingungkan :

1. Provinsi Riau = Ibukotanya Pekanbaru ( dominan daratan di pulau Sumatra )

2. Provinsi Bangka - Belitung = Ibukotanya di Pangkalpinang pulau Bangka.

3. Provinsi Kepulauan Riau = Ibukotanya di Tanjung Pinang pulau Bintan dekat pulau Batam.

Pertanyaan selanjutnya, siapkan pemerintah provinsi Bangka - Belitung untuk mengkaji kembali untuk tidak terbiasa menggunakan singkatan BABEL yang kadang membingungkan dan menambah kosa kata aneh baik dalam benak masyarakat, kamus besar bahasa Indonesia maupun mesin pencarian di internet seperti Google dan Yahoo . Bukankan lebih baik mengurai kesalahan lama daripada menciptakan kebenaran baru yang belum tentu akan menjadi benar yang sesungguhnya.