Lawang Sewu : Menyibak Misteri lorong Uji Nyali
Wednesday, December 3rd, 2008Lawang Sewu, gedung yang indah namun kumal tak terpelihara, kokoh namun menyisakan kekejaman PD II. Milik Negara bernilai tinggi di pusat kota namun menjadi incaran banyak kepentingan.
Kini yang ada hanya kesia-siaan…!!
Begitu bus kami merapat ke lingkar Tugu Muda, sangat jelas sekali gedung Lawang Sewu ini beda dengan bangunan sekitarnya. Lawang Sewu yang artinya gedung yang pintunya sangat banyak. Inilah nama yang diberikan masyarakat Semarang agar mudah menyebutkan gedung milik perusahaan Kerata Api tersebut dari dulu hingga sekarang. Pintu yang lebar dan tinggi, ditambah jendela yang sangat banyak selolah-olah menyerupai pintu, memang gedung ini tampak begitu banyak selali pintu yang menghubungkan dari satu ruangan ke ruangan lainnya.
“ Kita harus ke lorong bawah tanah Lawang Sewu. Penasaran gue kalo gak kesana. Mumpung lagi di Semarang” celoteh Nining yang sudah merencanakan jauh-jauh hari pulang dengan pesawat sore karena ingin keliling kota Semarang terlebih dahulu. Bahkan dari sekitar 17 orang peserta post tour Borobudur Trevel mart 29 Oktober 2008 di Semarang sepakat menjadikan kunjungan wajib ke gedung tua bekas milik Nederlandsch Indiche Spoorweg atau perusahaan Kereta Api jaman colonial Belanda. Barangkali arsitektur
sendiri Profesor Klinkkaner dan Quendaag saat membangun gedung ini sejak 1903 - 1907 tidak menyadari akan menjadi salah satu landmark kota Semarang saat ini. Justru gedung ini dibangun dengan ukuran besar dan megah karena perkembangan perkerataapian di Indonesia sedang tumbuh menjadi perusahaan transportasi darat yang penting, modern, menguntungkan dan prestisius. Pertumbuhan hasil bumi yang melimpah dari seluruh penjuru pulau Jawa. Hasil perkebunan Karet, Kopi, Gula Tebu menuntut angkutan missal yang memadai. Sementara jalan Groot Posweg Anyer Panarukanyang dibangun oleh Gubernur Jendral H. W. Daendels berkuasa sejak 1808 – 1811 sepanjang lebih kurang 1000 kilometer masih tidak dapat memenuhi kebutuhan para pengusaha perkebukan yang menyebar seluruh pelosok Jawa.
Lorong bawah tanah yang menyeramkan ini mengelilingi selebar gedung utama. Suasana lembab, gelap dan genangan air membuat setiap pengunjung harus mengenakan sepatu boat karet untuk menyusurinya. Pada awal penciptaannya, lorong tersebut difungsikan sebagai pusat penampungan air apabila terjadi ancaman banjir karena kota Semarang sendiri memang daerah rawan banjir. Namun, pada masa pergolakan PD II baik Belanda maupun Jepang memanfaatkannya sebagai penjara, bungker, gudang amunisi dan jalan rahasia untuk keluar masuk kawasan gedung termasuk mengintrogasi musuh dan mata-mata menggunakan kekerasan. Begitu banyak ruang-ruang yang dijadikan penjara di sini. Tampak jelas penjara yang sangat sempit konon dulu dihuni oleh banyak tahanan sehingga mereka nyaris tidak dapat duduk karena terlalu padat di isi sangat banyak tahanan. Belum lagi penjara jongkok yang diisi air sementara tahanan hanya bisa menongolkan kepalanya saja karena ditatasnya ditutup jeruji besi.
Korban tahanan dari lorong bawah tanah banyak sekali berguguran. Baik dikarenakan penyiksaan, penyakit maupun kelaparan. Para korban tahanan tersebut secara rahasia dibuang ke kanal samping gedung yang mengalir ke sungai yang lebih lebar. Hampir semua warga semarang tidak menyadari bahwa mayat-mayat tersebut dari buangan tahanan lawang sewu.
“ Di sini dulu digunakan sebagai siaran langsung tempat Uji Nyali yang terkenal itu “ kata bu Cenik sambil menunjukkan jarinya kea rah lorong yang akan kami lewati.
“ihhh serem…” salah satu peserta wisata bawah tanah penimpalinya sambil merapat ke tengah-tengah rombongan.


