Penjara Bawah Tanah Cut Nyak Dhien, Dimana ?
Monday, December 1st, 2008
Kesan pertama melihat penjara bawah tanah yang pernah dihuni Cut Nyak Dhien sama sekali tidak percaya. Bunker yang sangat lembab, gelap, becek, bau busuk, sempit dan setinggi hanya kurang lebih 130 centimeter membuat siapapun tidak bisa berdiri tegak di penjara itu. Berminggu-minggu, berbulan-bulan. Makan, tidur, bahkan buang hajat sekalipun tetap di tempat yang sama.
Sangat berbeda 180 derajat bila melihat mewahnya Stad Huis atau Gouvernourskantoor yang dibangun 1710 ini dengan keadaan penjara bawah tanahnya. Jelas sekali gedung tersebut tidak hanya untuk pusat pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia, tetapi juga diantisipasi jauh sampai hal-hal persiapan penjara super ketat terhadap pemberontak. Makan serangga atau binatang tikus liar adalah santapan mewah karena pemerintah kolonial Belanda kadang memberi makan hanya beberapa kali seminggu. Sudah bisa dipastikan bila menghuni penjara ini sulit membedakan waktu siang dan malam karena letaknya dibawah penjara bawah tanah masal di Museum Sejarah Jakarta. Penjara ini memang dibuat khusus untuk tahanan kelas berat pemimpin pembrontak penjajahan sekelas Cut Nyak Dhien.
Teuku Umar pun gugur melawan Belanda di Meulaboh pada tahun 1899. Untuk kedua kalinya Cut Nyak Dhien ditinggal suami karena perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Jiwa perjuangan Cut Nyak Dhien makin membara dan tetap memimpin pembrontakan meskipun dalam keadaan sakit rheumatik dan rabun.
Setelah pengasingannya ke Batavia atau yang sekarang lebih dikenal dengan Museum Fatahillah, kemudian diasingkan ke Sumedang Jawa barat hingga meninggal dunia pada tanggal 6 November 1908. .
