Posts Tagged ‘Semarang’

Lawang Sewu : Menyibak Misteri lorong Uji Nyali

Wednesday, December 3rd, 2008

Lawang Sewu, gedung yang indah namun kumal tak terpelihara, kokoh namun menyisakan kekejaman PD II. Milik Negara bernilai tinggi di pusat kota namun menjadi incaran banyak kepentingan.

 

Kini yang ada hanya kesia-siaan…!!

 

Nining ASPPI 29 Okt 2008 )

Lawang Sewu Semarang ( foto : Nining ASPPI 29 Okt 2008 )

 
Rombongan ASPPI gokil abis, meskipun 3 malam kurang tidur tetapi masih tetap semangat. Sama sekali tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengetahui lebih jelas tentang Semarang sampai ke tempat angker  bawah tanah sekalipun. Rasa penasaran belum puas kalo belum liat langsung tempat tayangan Uji Nyali yang pernah popular di salah satu televisi di Jakarta. Inilah salah satu tayangan paling diminati pemirsa yang dibawakan Harry Panca.
 
 
 
 

 

Begitu bus kami merapat ke lingkar Tugu Muda, sangat jelas sekali gedung Lawang Sewu ini beda dengan bangunan sekitarnya. Lawang Sewu yang artinya gedung yang pintunya sangat banyak. Inilah nama yang diberikan masyarakat Semarang agar mudah menyebutkan gedung milik perusahaan Kerata Api tersebut dari dulu hingga sekarang.  Pintu yang lebar dan tinggi, ditambah jendela yang sangat banyak selolah-olah menyerupai pintu, memang gedung ini tampak begitu banyak selali pintu yang menghubungkan dari satu ruangan ke ruangan lainnya.

 

Nining ASPPI)

kaca patri (foto: Nining ASPPI)

 

 

 

 

 

 

“ Kita harus ke lorong bawah tanah Lawang Sewu. Penasaran gue kalo gak kesana. Mumpung lagi di Semarang” celoteh Nining yang sudah merencanakan jauh-jauh hari pulang dengan pesawat sore karena ingin keliling kota Semarang terlebih dahulu. Bahkan dari sekitar 17 orang peserta post tour Borobudur Trevel mart 29 Oktober 2008 di Semarang sepakat menjadikan kunjungan wajib ke gedung tua bekas milik Nederlandsch Indiche Spoorweg atau perusahaan Kereta Api jaman colonial Belanda. Barangkali arsitektur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sendiri Profesor Klinkkaner dan Quendaag saat membangun gedung ini sejak 1903 - 1907 tidak menyadari akan menjadi salah satu landmark kota Semarang saat ini. Justru gedung ini dibangun dengan ukuran besar dan megah karena perkembangan perkerataapian di Indonesia sedang tumbuh menjadi perusahaan transportasi darat yang penting, modern, menguntungkan dan prestisius. Pertumbuhan hasil bumi yang melimpah dari seluruh penjuru pulau Jawa. Hasil perkebunan Karet, Kopi, Gula Tebu menuntut angkutan missal yang memadai. Sementara jalan Groot Posweg Anyer  Panarukanyang dibangun oleh Gubernur Jendral H. W. Daendels berkuasa sejak 1808 – 1811 sepanjang lebih kurang 1000 kilometer masih tidak dapat memenuhi kebutuhan para pengusaha perkebukan yang menyebar seluruh pelosok Jawa.

Ibu Cenik koordinator  pemandu Lawang Sewu yang juga putri dari Kuncen Lawang Sewu Mbah Ratno menyambut kami dengan hangat. Suasana lembah, tua, dan cat-cat putih di dinding yang sudah mulai memudar semakin  mengesankan sebuah gedung yang penuh misteri.  Eksplorasi misteri pun dimulai dari lobby,  ruang kerja, menara bahkan sampai akhirnya menuju lorong bawah tanah.

Nining ASPPI)

gedung belakang (foto: Nining ASPPI)

 Petualangan baru dimulai. Tak di sangka gedung yang begitu indah dengan cirri-ciri pintu dan jendela yang banyak, ternyata menyisakan cerita mistis. Mungkin karena sejak dibangun hingga sekarang, gedung ini mengalami beberapa alih fungsi. Pada masa sebelum perang dunia II gedung ini begitu kental sebagai ikon bisnis transportasi yang sangat dinamis. Pada saat memasuki PD II, akhirnya Jepang pun menggantikan Belanda memanpaatkan sebagai markas militer. Begitu banyak cerita nestapa para tahanan di sini.

 

 

Lorong bawah tanah yang menyeramkan ini mengelilingi selebar gedung utama. Suasana lembab, gelap dan genangan air membuat setiap pengunjung harus mengenakan sepatu boat karet untuk menyusurinya. Pada awal penciptaannya, lorong tersebut difungsikan sebagai pusat penampungan air apabila terjadi ancaman banjir karena kota Semarang sendiri memang daerah rawan banjir. Namun, pada masa pergolakan PD II baik Belanda maupun Jepang memanfaatkannya sebagai penjara, bungker, gudang amunisi dan jalan rahasia untuk keluar masuk kawasan gedung termasuk mengintrogasi musuh dan mata-mata menggunakan kekerasan. Begitu banyak ruang-ruang yang dijadikan penjara di sini. Tampak jelas penjara yang sangat sempit konon dulu dihuni oleh banyak tahanan sehingga mereka nyaris tidak dapat duduk karena terlalu padat di isi sangat banyak tahanan. Belum lagi penjara jongkok yang diisi air sementara tahanan hanya bisa menongolkan kepalanya saja karena ditatasnya ditutup jeruji besi.

Korban tahanan dari lorong bawah tanah banyak sekali berguguran. Baik dikarenakan penyiksaan, penyakit maupun kelaparan.  Para korban tahanan tersebut secara rahasia dibuang ke kanal samping gedung yang mengalir ke sungai yang lebih lebar. Hampir semua warga semarang tidak menyadari bahwa mayat-mayat tersebut dari buangan tahanan lawang sewu.

“ Di sini dulu digunakan sebagai siaran langsung tempat Uji Nyali yang terkenal itu “ kata bu Cenik sambil menunjukkan jarinya kea rah lorong yang akan kami lewati.

“ihhh serem…” salah satu peserta wisata bawah tanah penimpalinya sambil merapat ke tengah-tengah rombongan.

Napak Tilas Laksamana Cheng Ho

Friday, November 28th, 2008

 

Salah satu kelenteng untuk perhormatan pada Laksamana Cheng Ho

Salah satu kelenteng untuk perhormatan pada Laksamana Cheng Ho

Nining ASPPI )
ASPPI di depan patung Laksamana Cheng Ho Semarang 29 Oktober ( Photo : Nining ASPPI )

Siapa penemu benua Amerika ? “

seloroh pak Rachman pemandu di Kelenteng Sam Pho Kong Semarang. Otomatis kami semua peserta post tour BTM 29 Oktober lalu yang kebanyakan member ASPPI menjawab ” Christopher Colombus “

” Salah …” kata pak Rahman menimpalnya. Dan kami pun terkaget - kaget.

“Admiral Zheng He(Cheng Ho) atau yang lebih dikenal masyarakat Semarang bernama Sam Pho Kong sebagai pernghormatan, 70 tahun lebih awal tiba di Amerika dibandingkan Colombus. Penjelajahannya hingga mencapai benua Amerika mengambil waktu antara tahun 1421 dan 1423. Membawa armada 100 kapal dan sekitar 28,000 anak buah kapal. Armada kapal Zheng He berlayar menyusuri jalur selatan melewati Afrika dan sampai ke Amerika. Hal ini dibuktikan dalam seminar yang diselenggarakan oleh Royal Geographical Society di London beberapa waktu lalu. Adalah seorang ahli kapal selam dan sejarawan bernama Gavin Menzies dengan paparannya mengenai pelayaran terkenal dari pelaut mahsyur asal Cina, Laksamana Zheng He “ jelas pak Rachman sambil menggiring kita mengarah ke Kelenteng Utama sebagai pernghormatan kepada Laksamana.

Kelenteng tersebut diceritakan adalah tempat pendaratan pertama dan dibuatlah perkampungan darat untuk dijadikan markas selama perjalanan diplomatik ke Nusantara. Hingga akhirnya berkembang dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Dari puluhan ribu awak kapan, mereka memiliki keahlian yang berbeda-beda mulai ahli pertanian, pengobatan, pertukangan dan lain-lain membuat penduduk setempat menyambut gembira dapat saling belajar. Selain keahlian, karena Laksamana Cheng Ho dan sebagian kecil awak kapal beragama muslim, maka beberapa dari mereka memperistri para wanita semarang.

Sungguh bisa dikatakan pelayaran Armada Laut China pada masa Dinasti Ming ini betul-betul mengemban misi perdamaian dan diplomasi ke kerajaan-kerajaan yang dikunjunginya termasuk KEsultanan Demak pada saat itu.